BERITA TERKINI
Kemendag Dorong Transformasi Rantai Pasok Nasional Berbasis Digital, Berkelanjutan, dan Aman

Kemendag Dorong Transformasi Rantai Pasok Nasional Berbasis Digital, Berkelanjutan, dan Aman

Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Sri Sugi Atmanta, membuka LogiSYM Platinum Indonesia 2025 yang digelar di Shangrila Hotel, Jakarta, Kamis (27/11). Forum ini mengusung tema Digital, Sustainable, and Secure: Empowering Supply Chain Agility and Efficiency dan terselenggara melalui kerja sama Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) dengan The Logistics & Supply Chain Management Society (LSCMS).

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Chairman LogiSYM Indonesia 2025 Dr. Marco Tieman, President LSCMS Dr. Raymon Krishman, Ketua Umum ALI Mahendra Rianto, Ketua Umum ALDEI Imam Sedayu Pusponegoro, Wakil Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia Prabowo Kartoleksono, serta Ketua Umum Aptrindo Gemilang Tarigan.

Dalam pidatonya, Sri Sugi menilai LogiSYM Platinum Indonesia 2025 sebagai forum strategis yang mempertemukan regulator, pelaku industri, dan inovator rantai pasok. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada ALI yang disebutnya berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sistem logistik nasional, termasuk dalam pengembangan industri logistik, edukasi, serta mendorong praktik bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

Sri Sugi menyampaikan pemerintah terus mendorong kebijakan perdagangan dalam negeri yang berorientasi pada penyederhanaan distribusi, pengurangan biaya logistik, serta percepatan waktu tempuh barang dari hulu ke hilir. Upaya efisiensi rantai pasok, menurutnya, dilakukan melalui penguatan ekosistem distribusi, termasuk integrasi sistem perizinan dan pelaporan perdagangan, serta penguatan pemanfaatan digital trade system dan platform logistik nasional seperti National Logistics Ecosystem (NLE).

Melalui langkah tersebut, distribusi barang diharapkan menjadi lebih transparan, terukur, dan minim distorsi, sekaligus membantu menurunkan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan. Pemerintah juga disebut memperkuat konektivitas perdagangan antarwilayah agar arus barang tidak terpusat di kawasan tertentu, tetapi dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebih merata. Sri Sugi menyebut langkah ini penting untuk menjaga keseimbangan pasar, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan akses produk domestik ke berbagai daerah.

Ia menegaskan efisiensi rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Dalam konteks transformasi rantai pasok nasional, Sri Sugi menyampaikan tiga pilar utama yang menjadi arah kebijakan, yakni digitalisasi, keberlanjutan, dan keamanan.

Pilar pertama adalah digitalisasi melalui pemanfaatan real time tracking, sistem terpadu, dan logistik berbasis data untuk meningkatkan transparansi serta kecepatan. Pilar kedua adalah keberlanjutan melalui penerapan green logistics dengan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan optimalisasi rute distribusi. Pilar ketiga adalah keamanan, yakni penguatan sistem keamanan data dan manajemen risiko rantai pasok untuk menjaga keandalan distribusi nasional.

Selain tiga pilar tersebut, Sri Sugi menekankan pentingnya membangun rantai pasok nasional tidak hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk resiliensi dan kedaulatan ekonomi. Ia juga menyoroti perlunya interoperabilitas data lintas sektor logistik dan perdagangan agar kebijakan serta keputusan bisnis dapat bersifat prediktif dan terukur. Menurutnya, penguatan pasar domestik melalui logistik yang efisien dapat menjadi fondasi perlindungan industri nasional, terutama di tengah disrupsi global dan persaingan perdagangan yang semakin kompetitif.

Sri Sugi menambahkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah bersama sektor industri dinilai krusial, dengan pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator kebijakan, sementara industri sebagai inovator dan pelaksana di lapangan. Ia juga menyebut asosiasi seperti ALI sebagai penghubung strategis antara kebijakan dan implementasi. Sinergi tersebut diperlukan untuk mempercepat adopsi teknologi, memperkuat standardisasi layanan logistik, serta membangun ekosistem rantai pasok yang adaptif terhadap perubahan pasar.

Kemendag, lanjut Sri Sugi, berkomitmen memperkuat tata kelola perdagangan dalam negeri yang efisien, inklusif, dan berdaya saing. Ia mendorong para pemangku kepentingan untuk terus memperkuat dialog, meningkatkan adopsi teknologi, dan membangun standar layanan logistik yang adaptif terhadap dinamika global. Ia berharap LogiSYM Platinum Indonesia 2025 dapat menjadi momentum percepatan transformasi rantai pasok nasional menuju sistem yang lebih tangguh, efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.

Sementara itu, Ketua Umum ALI Mahendra Rianto menyatakan forum tersebut menjadi salah satu sarana untuk mengetahui platform kebijakan logistik dari negara lain, seperti Singapura dan Malaysia. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat berlanjut dan terus memperoleh dukungan dari pemerintah.