BERITA TERKINI
Kemenag Kenalkan Ekoteologi di Forum Internasional Mesir, Soroti Peran Agama Hadapi Krisis Global

Kemenag Kenalkan Ekoteologi di Forum Internasional Mesir, Soroti Peran Agama Hadapi Krisis Global

Kairo — Kementerian Agama (Kemenag) memperkenalkan konsep ekoteologi serta menegaskan peran agama sebagai sumber harmoni sosial dalam sebuah seminar internasional yang menjadi rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Mesir, Sabtu, 31 Januari 2026.

Paparan tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah Amir, di hadapan sekitar 150 peserta dari beragam latar belakang akademik dan keagamaan. Dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu, 1 Februari 2026, Lubenah menyebut agama memiliki peran strategis untuk menjawab tantangan global, termasuk krisis ekologis dan kemanusiaan yang saling berkaitan.

“Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan,” ujar Lubenah.

Ia menekankan bahwa agama tidak semestinya dipahami secara sempit sebatas praktik ritual atau identitas formal. Menurutnya, agama perlu hadir sebagai kekuatan yang membangun relasi sosial sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

“Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan,” katanya.

Lubenah juga menguraikan bahwa inti ajaran Islam adalah rahmah atau kasih sayang yang bersifat universal dan melampaui batas ruang serta waktu. Konsep rahmat bagi seluruh alam itu, menurutnya, menjadi landasan teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan berbasis agama.

“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,” ujarnya.

Namun, ia mengakui bahwa dalam praktik kehidupan modern, nilai-nilai universal tersebut kerap mengalami fragmentasi dan terlepas dari kepekaan terhadap penderitaan manusia maupun kerusakan lingkungan.

“Di sinilah pentingnya upaya menyulam kembali nilai-nilai tersebut, bukan sekadar sebagai wacana normatif, tetapi sebagai spirit yang hidup dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik keberagamaan sehari-hari,” kata Lubenah.

Dalam kesempatan itu, Lubenah menyebut Kemenag menempatkan cinta dan kemanusiaan sebagai salah satu prioritas kebijakan keagamaan. Kebijakan tersebut, menurutnya, diwujudkan melalui pengembangan berbagai layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

“Layanan ini dirancang agar beragama tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk dapat menjadi contoh dalam merawat harmoni sosial berbasis nilai keagamaan. “Cinta kemanusiaan menjadi landasan agar agama hadir sebagai kekuatan pemersatu, yang menumbuhkan saling pengertian, empati, dan kerja sama lintas iman dan budaya,” kata Lubenah.

Seminar internasional tersebut juga menghadirkan pembicara lain, yakni Pengajar Universitas Al-Azhar Syekh Fathi Hijazi serta Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Mesir Abdul Muta’ali.

Lubenah berharap forum Islamic Book Fair tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi juga memperkuat jejaring kerja sama lintas bangsa dalam meneguhkan nilai kemanusiaan dan harmoni dengan alam. “Dunia hari ini tidak kekurangan teknologi, tetapi sering kekurangan empati. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan,” tuturnya.