Laporan terbaru Kearney melalui Kearney FDI Confidence Index 2026 menempatkan kawasan Asia Pasifik sebagai wilayah dengan representasi terbesar dalam daftar tujuan investasi global, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Indeks ini secara historis dikenal memiliki korelasi kuat dengan arah arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) pada tahun-tahun berikutnya.
Survei dalam laporan tersebut melibatkan responden dari kalangan eksekutif tingkat atas (C-level) perusahaan global dengan pendapatan tahunan minimal USD 500 juta. Para responden mewakili berbagai sektor industri di 30 negara. Hasilnya menunjukkan sentimen investor masih dipengaruhi volatilitas geopolitik, persaingan teknologi, serta kebijakan industri yang semakin agresif.
Secara global, Amerika Serikat masih menempati peringkat teratas, diikuti Kanada, Jepang, dan Tiongkok. Singapura berada di peringkat kedelapan dunia. Dari total daftar, sebanyak 10 negara berasal dari Asia Pasifik, menjadikan kawasan ini paling dominan dibanding wilayah lain.
Di Asia Tenggara, arus investasi juga mencatat rekor baru. Sepanjang 2024, aliran FDI ke negara-negara ASEAN mencapai USD 225 miliar. “Arus modal terus mengalir, namun perusahaan kini semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi,” ujar Erik R. Peterson.
Dalam kategori pasar berkembang, Indonesia berada di peringkat ke-13 pada 2026, turun satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, sejumlah negara ASEAN mencatat kenaikan posisi, antara lain Thailand yang naik dari peringkat ke-10 menjadi ke-6 dan Malaysia yang meningkat dari peringkat ke-11 ke posisi ke-7.
Laporan tersebut mencatat daya tarik investasi di Asia Tenggara didorong oleh faktor seperti kemudahan berusaha, kualitas tenaga kerja, dan stabilitas ekonomi. Thailand disebut unggul pada sektor manufaktur, termasuk otomotif dan pengolahan makanan. Malaysia menonjol pada industri bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor dan teknologi. Indonesia, di sisi lain, dinilai memiliki keunggulan pada besarnya pasar domestik serta kekayaan sumber daya alam.
Meski peringkat Indonesia turun, sentimen investor terhadap Indonesia dilaporkan tetap positif. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, sebanyak 87% responden menyatakan tetap optimistis atau bahkan lebih optimistis terhadap prospek investasi di Indonesia.
Faktor yang paling banyak disebut sebagai alasan utama ketertarikan investor adalah kualitas tenaga kerja, dengan porsi 28% responden. Dengan populasi hampir 288 juta jiwa, Indonesia dinilai menawarkan pasar domestik besar sekaligus ketersediaan tenaga kerja yang melimpah.
Sumber daya alam juga menjadi daya tarik dengan porsi 28%. Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia disebut menjadi perhatian dalam rantai pasok global, terutama untuk industri baterai dan kendaraan listrik. Data dalam laporan menunjukkan sektor logam dasar mencatat realisasi FDI tertinggi pada 2025 sebesar USD 14,6 miliar, disusul sektor pertambangan sebesar USD 4,7 miliar.
Selain itu, investor juga mempertimbangkan kinerja ekonomi (27%), kemudahan berusaha (25%), serta inovasi teknologi (21%) dalam menilai prospek investasi di Indonesia.
Di sisi lain, pelaku bisnis global masih mencermati sejumlah risiko dalam satu tahun ke depan. Ketegangan geopolitik menjadi faktor yang paling dikhawatirkan, diikuti kenaikan harga komoditas dan ketidakstabilan politik.
Kebijakan industri juga dinilai semakin menentukan arah investasi. Sebanyak 84% investor menyebut kebijakan ini sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Namun, hampir 90% investor melihat risiko dari kebijakan antarnegara yang saling bertabrakan dan dapat memicu ketidakpastian bisnis.
Di Asia, persaingan investasi disebut semakin ketat, terutama pada sektor strategis seperti semikonduktor, kendaraan listrik, dan energi hijau. Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, menilai Indonesia berada pada titik penting dalam peta investasi global. Ia menekankan perlunya penguatan regulasi, percepatan transisi energi, serta peningkatan infrastruktur dan inovasi untuk menjaga daya saing investasi Indonesia ke depan.