Kasus kebohongan yang melibatkan Ratna Sarumpaet kerap disebut sebagai contoh nyata penggunaan istilah “hoaks” dalam arti paling sederhana: tipu-tipu yang pada awalnya bersifat personal. Dalam narasi yang berkembang, kebohongan itu disebut bermula dari upaya Ratna menutupi rasa malu ketika ditanya anaknya mengenai kondisi wajahnya yang babak belur.
Dalam cerita tersebut, Ratna memilih memberikan alasan bahwa dirinya mengalami penganiayaan, alih-alih mengakui bahwa kondisi itu berkaitan dengan operasi plastik. Kebohongan yang semula bersifat domestik itu kemudian membesar setelah informasi tersebut menyebar dan menjadi konsumsi publik.
Dari persoalan pribadi menjadi isu politik nasional
Situasi berubah ketika kabar dugaan penganiayaan menyebar ke ruang publik. Dalam iklim politik menjelang Pilpres 2019, isu itu berkembang menjadi hoaks politik nasional. Polarisasi politik ikut mempercepat eskalasi, karena informasi tersebut diperlakukan sebagai amunisi dalam pertarungan opini.
Di dalam tulisan ini, disebutkan bahwa kubu pendukung Prabowo memanfaatkan kabar tersebut untuk menyerang kubu Jokowi, karena dianggap dapat melemahkan kredibilitas dan legitimasi politik lawan. Namun, kebohongan itu kemudian cepat terbongkar, yang dikaitkan dengan respons cepat kepolisian.
Pengakuan dan munculnya “sekuel” berupa teori konspirasi
Setelah kebohongan terungkap, Ratna mengakui perbuatannya dalam konferensi pers. Meski demikian, cerita tidak berhenti pada pengakuan itu. Narasi lanjutan justru berkembang dalam bentuk berbagai teori konspirasi yang datang dari dua kubu politik yang berseberangan.
Dua teori konspirasi yang paling menonjol
- Versi pendukung Jokowi: Kasus ini disebut-sebut sebagai skenario yang sejak awal dirancang. Rangkaian peristiwa—mulai dari operasi plastik, pengambilan foto wajah babak belur, penyebaran foto di media sosial, hingga langkah Ratna melapor kepada elite Gerindra dan Amien Rais, dilanjutkan konferensi pers Prabowo serta kecaman kepada kubu Jokowi—dipandang sebagai orkestrasi untuk menyerang lawan politik.
- Versi pendukung Prabowo: Ratna diduga agen intelijen yang ditanam untuk merusak soliditas kubu Prabowo dari dalam. Dalam versi ini, kecurigaan dikaitkan dengan sejumlah hal, antara lain hilangnya ponsel Ratna usai perdebatan dengan Menko Maritim Luhut Panjaitan mengenai penanganan korban Danau Toba, cepatnya polisi memaparkan kebohongan Ratna, serta berbagai dugaan lain terkait sepak terjang Ratna. Tujuan yang disebut dalam teori ini adalah agar Prabowo didiskualifikasi sebagai calon presiden.
Kabar perjalanan ke Chile dan perluasan narasi
Teori konspirasi semakin melebar setelah muncul kabar mengenai kepergian Ratna ke Chile, Amerika Selatan. Salah satu versi menyebut perjalanan itu sebagai upaya mencari suaka politik dan membangun peran sebagai “prisoner of conscience” untuk mengampanyekan tuduhan adanya persekusi politik di era Jokowi dari luar negeri. Versi lain menyebut langkah itu sebagai upaya menyelamatkan diri, baik dari proses hukum maupun dari kemarahan kubu Prabowo.
Hoaks kecil, konspirasi besar
Dalam pandangan penulis, kegemaran mengaitkan peristiwa dengan teori konspirasi mencerminkan politik yang digerakkan emosi dan defisit nalar, sehingga politik rasional menghilang. Dengan cara pandang bahwa “tidak ada kebetulan dalam politik”, tindakan individu yang disebut sebagai kebodohan atau kekonyolan pun dapat ditafsirkan sebagai strategi.
Karena itu, kasus Ratna Sarumpaet dinilai berpotensi terus memunculkan “sekuel” narasi konspiratif, setidaknya hingga Pilpres 2019 berakhir, seiring hoaks dan konspirasi tetap menjadi bagian dari wacana politik yang ramai diperdebatkan.

