JAKARTA — Kaspersky melaporkan ancaman siber global terus meningkat, termasuk di kawasan Asia Pasifik, seiring kian masifnya transformasi digital yang dilakukan berbagai organisasi.
Berdasarkan pemantauan perusahaan sepanjang 2025, sekitar 500 ribu file berbahaya terdeteksi setiap hari secara global. Angka ini naik sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan juga tercatat pada sejumlah jenis ancaman. Deteksi password stealer dilaporkan melonjak 59%, spyware meningkat 51%, dan backdoor naik 6% dibandingkan 2024.
Di Asia Pasifik, tren kenaikan disebut lebih signifikan. Kaspersky mencatat lonjakan 132% pada serangan pencuri kata sandi serta kenaikan 32% pada spyware.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai keamanan siber kini tidak lagi sekadar isu teknologi informasi, melainkan telah menjadi faktor yang memengaruhi keberlangsungan bisnis organisasi.
“Keamanan siber bukan lagi sekadar fungsi TI, tetapi secara langsung memengaruhi keberlangsungan bisnis dan keunggulan kompetitif,” kata Hia.
Ia menambahkan, perusahaan saat ini menghadapi spektrum ancaman yang luas, mulai dari penipuan digital hingga serangan siber berskala besar dan kampanye advanced persistent threat (APT).
“Organisasi saat ini harus bertahan dari segala hal mulai dari serangan skala besar dan penipuan hingga kampanye APT yang canggih,” tegasnya.
Kaspersky menilai peningkatan ancaman tersebut menuntut organisasi memperkuat strategi keamanan digital, termasuk dengan memanfaatkan intelijen ancaman serta solusi keamanan yang lebih adaptif.

