BERITA TERKINI
Kaspersky Catat 39 Juta Ancaman Siber di Indonesia pada 2025, Perusahaan Mulai Melirik SOC Berbasis AI

Kaspersky Catat 39 Juta Ancaman Siber di Indonesia pada 2025, Perusahaan Mulai Melirik SOC Berbasis AI

Lanskap keamanan siber di Indonesia dinilai kian meningkat dari sisi volume maupun kompleksitas serangan. Kaspersky melaporkan sepanjang 2025 terdeteksi dan diblokir 14.909.665 serangan berbasis web serta 39.718.903 ancaman pada perangkat di Indonesia.

Selain itu, sekitar 20% perusahaan di Indonesia dilaporkan mengalami serangan rantai pasokan. Temuan tersebut menunjukkan risiko yang semakin luas terhadap operasional bisnis, seiring keterhubungan sistem dan layanan digital yang makin tinggi.

Di tengah tren ancaman tersebut, sejumlah perusahaan mulai menggeser pendekatan keamanan dari yang bersifat reaktif menuju strategi yang lebih proaktif. Salah satu langkah yang banyak dipertimbangkan adalah implementasi Security Operations Center (SOC), yaitu unit khusus yang memantau, mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman siber secara berkelanjutan.

Berdasarkan riset Kaspersky, 58% pemimpin dan pengambil keputusan TI di Indonesia percaya pembangunan SOC dapat meningkatkan keamanan siber organisasi. Sementara itu, 65% perusahaan berencana meningkatkan SOC dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 53% responden menyebut peningkatan efektivitas deteksi ancaman sebagai alasan utama adopsi AI.

Kaspersky menilai pendekatan SOC lebih relevan untuk menghadapi ancaman modern, termasuk Advanced Persistent Threats (APT) hingga serangan berbasis AI. Namun, implementasi SOC di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Riset yang sama mencatat 47% organisasi mengalami kekurangan data pelatihan berkualitas tinggi, 37% kekurangan tenaga ahli AI, dan 29% kesulitan menemukan solusi yang sesuai di pasar.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menekankan peran teknologi dalam menghadapi transformasi digital di kawasan. Ia menyebut Kaspersky telah mengembangkan teknologi dan layanan keamanan siber selama hampir tiga dekade serta mengadopsi pembelajaran mesin dan AI sejak 2004.

Sementara itu, Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, menilai organisasi tidak dapat lagi mengandalkan sistem keamanan yang terfragmentasi di tengah kenaikan ancaman yang menargetkan perusahaan di Indonesia. Menurutnya, SOC terintegrasi yang didukung SIEM dan intelijen ancaman real-time penting untuk memungkinkan deteksi dini, respons insiden yang cepat, dan menjaga pertahanan bisnis secara berkelanjutan.

Di sisi bisnis, Kaspersky juga melaporkan pertumbuhan penjualan global 4% secara tahunan (YoY) dengan total mendekati USD 836 juta pada 2025. Di Asia Pasifik, pertumbuhan mencapai 4% YoY, dengan segmen enterprise tumbuh 22% dan non-endpoint meningkat hingga 40%. Adapun di Indonesia, bisnis Kaspersky tumbuh 3% YoY, dengan segmen B2C disebut melonjak 48%.