Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyinggung dampak konflik global terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat menghadiri acara buka puasa bersama Polri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lapangan Bhayangkara, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Dalam sambutannya, Sigit menyatakan ketegangan global berpengaruh pada indikator ekonomi dalam negeri dan berpotensi mengganggu pembangunan nasional. Ia menilai inflasi berpeluang terjadi dan kebijakan fiskal dapat diperketat, sehingga berdampak pada program-program pembangunan.
Menurut Sigit, guncangan geopolitik menjadi tantangan utama bagi ekonomi dan fiskal nasional, terutama di sektor energi. Ia menyoroti pergerakan harga minyak yang sempat melonjak hingga menyentuh US$ 110 per barel. Meski kemudian turun ke kisaran US$ 88 hingga US$ 92 per barel, ia menekankan situasi masih fluktuatif.
Kondisi tersebut, kata Sigit, turut menambah beban fiskal Indonesia. Ia mengutip pernyataan Menteri Keuangan Purbaya bahwa setiap kenaikan US$ 1 harga minyak dapat menambah beban negara sebesar Rp 6,8 triliun.
Sigit juga mengingatkan bahwa konflik global dapat memicu dampak luas, mulai dari krisis kemanusiaan, ekonomi, hingga krisis sosial. Ia menilai situasi ini menuntut keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, termasuk soliditas TNI dan Polri.
Ia menegaskan stabilitas keamanan merupakan syarat mutlak bagi pembangunan. Menurutnya, tantangan bangsa membutuhkan soliditas dan sinergi agar berbagai program dapat dijalankan dengan baik.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam agenda tersebut, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI periode 2024-2029 Utut Adianto, Penasihat Khusus Presiden Bidang Kamtibmas dan Reformasi Kepolisian Komisaris Jenderal (Purn.) Ahmad Dofiri, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar, sejumlah wakil menteri Kabinet Merah Putih, serta jajaran pejabat utama Mabes Polri.

