BERITA TERKINI
Kapolri Jelaskan Langkah Pemerintah Merespons Konflik Global dan Dampaknya ke Ekonomi

Kapolri Jelaskan Langkah Pemerintah Merespons Konflik Global dan Dampaknya ke Ekonomi

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memaparkan sejumlah upaya yang disebut dilakukan pemerintah Indonesia dalam merespons konflik global, termasuk situasi di Timur Tengah, serta langkah menjaga perekonomian nasional dari dampak ketidakpastian dunia.

Dalam acara buka puasa bersama TNI-Polri di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Rabu, Sigit mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah mengumpulkan elit pemerintah dan tokoh-tokoh untuk menyampaikan pentingnya peran aktif Indonesia dalam politik luar negeri bebas aktif (nonblok) demi menjaga perdamaian dunia.

“Tentunya pemerintah berusaha keras untuk menyikapi agar peristiwa atau konflik tersebut bisa segera diakhiri,” kata Sigit.

Ia juga menyinggung keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) sebagai salah satu upaya pemerintah membantu mengatasi konflik global, meski keputusan tersebut dipertanyakan oleh sejumlah pihak. Menurut Sigit, ketika lembaga-lembaga besar yang selama ini bertugas menjaga perdamaian tidak didengar oleh Amerika Serikat, keanggotaan Indonesia di BoP dipandang sebagai kesempatan bagi Presiden Prabowo untuk menyuarakan perdamaian.

“Mau tidak mau Bapak Presiden mencoba untuk masuk BoP sehingga tetap masih ada kesempatan untuk bicara tentang perdamaian di Timur Tengah, dan ini sedang beliau lakukan,” ujarnya.

Selain isu keamanan global, Sigit menyatakan Presiden Prabowo juga berupaya menjaga agar ekonomi Indonesia terlindungi dari dampak situasi global, termasuk terkait perang tarif yang ia sebut dipicu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sigit mengatakan tarif impor untuk Indonesia ke Amerika Serikat yang semula 32 persen dapat diturunkan menjadi 19 persen melalui diplomasi.

“Alhamdulillah, berkat diplomasi yang dilaksanakan oleh Bapak Presiden pada saat ini, dari angka tarif 32 persen untuk impor Indonesia ke Amerika bisa diturunkan menjadi 19 persen,” kata Sigit.

Ia menambahkan, Mahkamah Agung Amerika Serikat disebut memutuskan angka impor negara-negara sebesar 15 persen, namun menurutnya putusan itu masih menjadi perdebatan antara Trump dan parlemen.

Sigit menekankan diplomasi perdagangan tetap dilakukan. Ia menyebut, di satu sisi Indonesia memperoleh tarif impor 0 persen untuk jenis komoditas tertentu, seperti sepatu, meubel, tekstil, serta chip semikonduktor. Ia juga menyatakan tarif 0 persen berlaku untuk lebih dari 1.800 komoditas Indonesia.

“Sehingga di satu sisi ini tentunya memberikan ruang untuk industri yang ada di Indonesia untuk tetap terus bisa melakukan produksi,” ujarnya.

Menurut Sigit, diplomasi perdagangan tersebut ditujukan untuk menjaga perekonomian tetap berjalan, mendorong pertumbuhan, serta menambah lapangan pekerjaan. Ia juga menyampaikan Presiden mendorong berbagai program, termasuk Astacita, program terbaik cepat, dan program prioritas nasional, yang diharapkan dapat menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru.