BERITA TERKINI
Kajian Strukturalisme dan Semiotika pada Novel "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" Karya Tere Liye

Kajian Strukturalisme dan Semiotika pada Novel "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" Karya Tere Liye

Sebuah kajian membahas novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye dengan menggunakan dua pendekatan, yakni strukturalisme dan semiotika. Analisis ini menempatkan novel sebagai karya fiksi yang dibangun oleh unsur intrinsik—seperti tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, dan amanat—serta menelaah sistem tanda melalui teori semiotika Charles Sanders Peirce.

Pada bagian pendahuluan, kajian menekankan bahwa novel sebagai karangan panjang memungkinkan pengarang mengungkapkan persoalan kehidupan secara lebih rinci dan kompleks. Novel yang dipilih dinilai memuat inspirasi tentang makna hidup, terutama melalui perjalanan tokoh utama yang mempertanyakan berbagai peristiwa yang dialaminya.

Dalam landasan teori, strukturalisme dipaparkan sebagai pendekatan intrinsik yang memandang karya sastra sebagai struktur otonom dan menekankan hubungan antarelemen pembangun teks. Sementara itu, semiotika dipahami sebagai ilmu tentang tanda. Kajian ini menggunakan konsep Peirce yang membedakan tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol berdasarkan hubungan antara tanda dan acuannya.

Hasil analisis struktural menyimpulkan tema novel berkisar pada “rahasia di balik kehidupan” yang berkaitan dengan kisah hidup, percintaan, serta hubungan sebab-akibat dalam perjalanan tokoh utama, Ray (Rehan/Rey). Tokoh utama disebut Ray, sedangkan tokoh tambahan antara lain penjaga panti, Diar, Bang Ape, Fitri, Plee, Jo, dan Natan.

Penokohan Ray digambarkan memiliki sisi emosional dan kompleks: mudah marah, pernah mencuri, namun juga cerdas, solider terhadap teman-temannya, serta setia kepada istrinya. Diar ditampilkan sebagai sosok peduli dan baik hati. Penjaga panti digambarkan sebagai figur setengah baya yang bersikap jahat dan mengeksploitasi anak yatim. Tokoh Plee ditampilkan memiliki sifat rela berkorban dan setia, sementara Fitri digambarkan baik hati dan menyukai anak-anak. Bang Ape disebut ramah dan bijak, sedangkan Natan ditampilkan baik hati dan tidak sombong.

Dari sisi alur, novel dinyatakan menggunakan alur campuran (maju-mundur). Cerita dibuka dengan situasi Ray sebagai pasien yang dirawat di ruang VVIP rumah sakit, lalu bergerak ke kilas balik masa kecilnya di panti asuhan dan berlanjut dengan perpindahan waktu yang bergantian.

Analisis latar mencatat sejumlah tempat yang muncul dalam novel, seperti panti asuhan, rumah sakit, terminal, toilet, rumah singgah, kantor kelurahan, kantor polisi, dan stadion. Latar waktu meliputi pagi, siang, sore, dan malam, termasuk penanda jam tertentu. Adapun latar suasana yang menonjol antara lain sedih, sebal, sepi, ramai, dan menegangkan.

Untuk sudut pandang, novel disebut menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, yang memungkinkan pengarang menyampaikan perasaan dan kejadian secara rinci. Sementara amanat yang ditarik dari cerita menekankan pelajaran hidup tentang kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur, serta gagasan bahwa perbuatan seseorang dapat berpengaruh pada kehidupan orang lain.

Pada analisis semiotika Peirce, kajian mengelompokkan temuan tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol. Ikon dicontohkan melalui kata-kata seperti “megafon”, “panti asuhan”, dan “karnaval” yang dipahami memiliki kemiripan langsung dengan acuannya. Indeks dicontohkan melalui penanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat, seperti “matanya berbinar-binar” (kegembiraan), “perutnya kosong” (belum makan), “menggigil” (kedinginan), “terkantuk-kantuk” (mengantuk), dan “matahari beranjak tenggelam” (peralihan waktu sore menuju malam).

Sementara itu, simbol dijelaskan sebagai tanda yang maknanya terbentuk lewat konvensi. Contohnya antara lain “Lebaran” sebagai sebutan hari raya umat Islam, “suster” untuk perawat, “dokter”, “guru”, “sopir bus”, serta “Ibu Kota” sebagai sebutan kota pusat pemerintahan. Kajian juga menyinggung simbol “payung-payung hitam” yang dipahami melambangkan kematian, serta ungkapan “permata hati” sebagai sebutan bagi anak.

Secara keseluruhan, kajian menyimpulkan bahwa novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dapat dibaca melalui keterkaitan unsur-unsur intrinsiknya serta melalui jejaring tanda yang muncul dalam teks. Analisis struktural menyoroti bangunan cerita dan fungsinya, sedangkan analisis semiotika menekankan cara tanda bekerja untuk menghadirkan makna di dalam narasi.