Sebuah tulisan kajian sastra membahas novel Elegi Haekal karya Dhia’an Farah melalui dua pendekatan, yakni strukturalisme dan semiotika. Kajian ini menempatkan novel sebagai objek analisis karena relevan dengan pembahasan kritik sastra dan semiotik, serta bertujuan mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik dan tanda-tanda (simbol, ikon, indeks) yang hadir di dalam teks.
Dalam pengantar kajiannya, penulis menegaskan bahwa novel dipahami sebagai karya prosa yang menghadirkan peristiwa fiksi maupun yang terinspirasi dari kisah nyata, serta dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Rujukan teori yang dipakai antara lain pandangan Nurgiyantoro yang menyebut novel sebagai hasil imajinasi dan penghayatan pengarang terhadap masyarakat, dengan penyajian yang lebih rinci dan kompleks. Penulis juga menyebut beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan pendekatan serupa pada karya lain, seperti kajian struktural-semiotik pada novel Melted, novel grafis Persepolis, serta novel Ayat-Ayat Cinta.
Landasan teori yang digunakan menjelaskan pendekatan struktural sebagai cara membaca karya sastra dari unsur pembangun internalnya—seperti alur, tema, penokohan, dan latar—dengan memandang karya sebagai teks yang otonom. Sementara itu, semiotika dipaparkan sebagai kajian tentang tanda dan makna. Dalam rujukan yang dikemukakan, bahasa dipandang sebagai sistem tanda yang tidak hanya bergerak pada makna tingkat pertama, tetapi juga makna tingkat kedua. Definisi tanda juga dijelaskan melalui pemikiran Peirce tentang relasi tanda, objek, dan interpretant.
Pada bagian pembahasan, kajian ini memetakan unsur intrinsik Elegi Haekal. Tema yang diidentifikasi adalah percintaan remaja SMA yang berbalut persoalan, sekaligus kisah seorang anak yang berupaya mencari kasih sayang dan simpati dari ibunya. Tokoh utama dalam cerita adalah Haekal, sementara tokoh tambahan yang disebut antara lain Hanna, Azalea, Jere, Janura, Cena, Reno, Pak Jovan, Jay, Darto, Bu Sarah, Bi Nur, Tama, Kak Shofi, dan Rehan.
Dari sisi alur, penulis menilai novel menggunakan alur campuran, memadukan alur maju dan alur mundur. Untuk latar, kajian mencatat sejumlah latar tempat yang muncul dalam cerita, seperti taman fakultas pendidikan, kamar, dapur, ruang makan, parkiran khusus guru, ruang BK, gedung sekolah taman kanak-kanak, UKS, pasar, koridor sekolah, hingga rumah sakit. Latar waktu yang disebut meliputi penanda seperti tahun 2017, pukul 06.30, jam 10 malam, pukul 12 siang, serta rentang “tujuh belas tahun lalu”. Adapun latar suasana yang ditangkap mencakup nuansa sedih, kecewa, marah, dan senang.
Kajian ini juga menyimpulkan sudut pandang yang digunakan pengarang adalah orang ketiga. Sementara itu, amanat yang ditarik dari cerita dirumuskan sebagai pesan agar tidak melakukan hal yang tidak semestinya karena penyesalan datang belakangan.
Pada pembacaan semiotik, penulis mengidentifikasi beberapa bentuk tanda. Simbol yang disebut antara lain simbol panggilan “mama” yang digunakan tokoh saat menyapa ibu, simbol nama berupa “mobil” sebagai kendaraan beroda empat, simbol ungkapan “wanita paruh baya” untuk menyebut perempuan yang sudah berumur namun belum lansia, serta simbol tempat “kampus” sebagai perguruan tinggi. Ikon yang dicatat adalah “mobil pick up” yang dipahami sebagai kendaraan pembawa barang. Sementara itu, indeks yang ditemukan mencakup indeks aktivitas tokoh sebagai pelajar SMA, serta indeks dialek berupa penggunaan dialek Sunda yang menandai latar kebahasaan tokoh tertentu.
Di bagian penutup, penulis menegaskan kembali posisi novel sebagai karya prosa yang dekat dengan bahasa sehari-hari sehingga mudah dipahami pembaca. Kajian ini menyebut novel Elegi Haekal diterbitkan oleh PT Cahaya Duabelas Semesta (Loveable), dan menyatakan harapan agar tulisan analisis tersebut bermanfaat bagi pembaca maupun penulis.

