Guncangan pasar minyak dan gas dunia akibat konflik di Timur Tengah kembali mendorong banyak negara menilai ulang ketahanan energinya. Dalam situasi ketika risiko gangguan pasokan meningkat, Indonesia justru dinilai memiliki bantalan yang relatif kuat dibanding banyak negara lain yang sangat bergantung pada impor energi.
Konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz disebut menegaskan besarnya risiko ketergantungan pada impor energi. Selat Hormuz dilaporkan telah dibuka kembali pada Jumat malam (17/4/2026), namun risiko ke depan dinilai tetap ada.
JP Morgan, perusahaan layanan keuangan asal Amerika Serikat, memetakan kerentanan energi dalam laporan berjudul Pandora's Bog: the global energy shock of 2026. Kajian tersebut menilai 52 negara konsumen energi final terbesar dunia yang mewakili 82% konsumsi energi global. Negara produsen besar seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab dikeluarkan dari daftar karena mendapatkan subsidi besar dari produksi domestik.
Fokus kajian ini adalah mengukur seberapa sensitif suatu negara terhadap lonjakan harga minyak dan gas, serta seberapa kuat penyangganya melalui ketersediaan gas domestik, batu bara domestik, energi terbarukan, dan nuklir. Sejumlah parameter digunakan, antara lain besaran energi final berguna, porsi impor minyak dan gas (termasuk yang terkait Selat Hormuz), pangsa impor minyak dan gas terhadap energi primer, kontribusi batu bara, nuklir, dan energi terbarukan domestik terhadap energi final berguna, hingga konsentrasi penggunaan minyak untuk transportasi jalan.
Dalam pemetaan JP Morgan, sejumlah negara dinilai paling terekspos terhadap guncangan energi global, antara lain Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, dan Belanda. Negara-negara tersebut disebut sangat bergantung pada impor minyak dan gas, terutama dari kawasan Teluk.
Di sisi lain, China dinilai relatif terlindungi karena ditopang ketergantungan besar pada batu bara domestik dan produksi gas dalam negeri. Temuan ini menunjukkan diversifikasi sumber energi menjadi faktor penting dalam menghadapi gejolak global. Negara lain yang disebut mendapat manfaat serupa antara lain India, Afrika selatan, Vietnam, dan Filipina. Perlindungan juga datang dari energi nuklir di sejumlah negara seperti Prancis, Swedia, Swiss, hingga Republik Ceko, sementara negara dengan bauran energi terbarukan tinggi turut diuntungkan, seperti Brasil, Austria, dan Portugal.
Untuk Indonesia, JP Morgan menilai ketahanan terhadap guncangan energi global relatif kuat, terutama saat harga minyak dan gas melonjak akibat perang, konflik geopolitik, atau gangguan pasokan. Dalam perhitungan total factor protection—yakni porsi energi final berguna yang lebih sedikit terekspos terhadap guncangan global harga minyak dan gas—Indonesia berada di peringkat dua, hanya di bawah Afrika Selatan. Sementara jika dihitung berdasarkan kombinasi ketergantungan impor minyak/gas yang rendah dan ketahanan yang tinggi, Indonesia berada di peringkat tiga.
Salah satu faktor yang disebut menguntungkan Indonesia adalah produksi batu bara domestik yang besar. Dalam situasi lonjakan harga minyak dan gas, negara dengan pasokan batu bara internal dinilai lebih tahan terhadap guncangan biaya energi. Batu bara juga disebut masih menjadi tulang punggung pembangkit listrik nasional, sehingga kenaikan harga minyak dan gas tidak otomatis mendorong tarif listrik setinggi negara yang bergantung pada LNG impor.
Dalam laporan tersebut, Indonesia tercatat memiliki Insulation Factor sebesar 77%, termasuk salah satu yang tertinggi. Angka ini diartikan sebagai sebagian besar kebutuhan energi nasional masih dapat ditopang dari sumber dalam negeri, sehingga dampak lonjakan harga global tidak langsung menghantam ekonomi domestik sekeras negara yang bergantung pada impor.
Meski Indonesia masih mengimpor LPG dan BBM, pasokan gas domestik dinilai menjadi penyangga penting untuk industri dan pembangkit listrik. Tingkat ketergantungan impor minyak Indonesia juga disebut tidak seekstrem negara seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan yang hampir sepenuhnya mengandalkan impor energi primer.
Bauran energi Indonesia dinilai relatif lebih beragam. Selain batu bara, sumber energi primer juga ditopang pembangkit air, panas bumi, hingga biodiesel. Dari sisi ekonomi, Indonesia disebut memiliki bantalan pertumbuhan karena 56% perekonomian bertumpu pada konsumsi domestik, berbeda dengan negara yang sangat mengandalkan ekspor manufaktur seperti Korea Selatan dan Taiwan.
Pemerintah juga disebut memiliki instrumen untuk meredam dampak lonjakan energi global, seperti subsidi BBM dan listrik serta kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara. Melalui mekanisme tersebut, gejolak harga global dinilai tidak langsung diteruskan ke masyarakat.
Namun, laporan itu juga mencatat titik lemah Indonesia. Produksi minyak domestik disebut terus menurun sementara konsumsi meningkat. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini berisiko membuat beban subsidi membengkak.