Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru di pasar energi global setelah Iran dilaporkan resmi menutup Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia. Penutupan ini dinilai dapat mendorong lonjakan harga minyak, bahkan berpotensi melampaui US$100 per barel.
Mantan penasihat energi Gedung Putih pada era Presiden George W Bush, Bob McNally, menyatakan penutupan Selat Hormuz akan berdampak luas terhadap perekonomian dunia. Ia menilai penutupan yang berlangsung lama dapat memicu resesi global. “Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama akan menjamin terjadinya resesi global,” kata McNally, dikutip Minggu (1/3/2026).
McNally juga memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah dapat naik cepat ketika perdagangan dibuka, dengan kenaikan sekitar US$5 hingga US$7 per barel. Pada perdagangan terakhir, harga minyak Brent ditutup di level US$72,48 per barel atau naik 2,45%, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$67,02 per barel, naik 2,78%.
Selat Hormuz selama ini menjadi titik strategis arus energi dunia. Data Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel minyak mentah per hari melintas di Selat Hormuz sepanjang 2025. Volume tersebut setara dengan sepertiga ekspor minyak mentah global yang dikirim melalui jalur laut.
Dari total pengiriman tersebut, sekitar 75% ditujukan ke negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua dunia, disebut menerima setengah dari total impor minyak mentah yang melewati Selat Hormuz.
Selain minyak mentah, sekitar 20% ekspor gas alam cair (LNG) dunia juga melewati Selat Hormuz, dengan porsi besar berasal dari Qatar. Penutupan jalur ini dinilai menyulitkan upaya penggantian pasokan energi global dalam waktu singkat.
McNally memperingatkan kemungkinan negara-negara pengimpor utama di Asia melakukan penimbunan energi apabila situasi memburuk. “Anda akan melihat aksi penimbunan, terutama oleh negara-negara Asia yang merupakan importir besar minyak dan gas. Ini akan menjadi perang penawaran terbesar,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz disebut dilakukan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran. Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari mengatakan penutupan dilakukan menyusul agresi terhadap Iran. “Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkapnya, dikutip Minggu (1/3/2026).
Pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa Apsides menyebut informasi penutupan telah disebarkan melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran, yang menyatakan kapal-kapal dilarang melintasi kawasan tersebut. “Tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz,” bunyi peringatan IRGC.
Di sisi lain, Kementerian Perkapalan Yunani, mengutip Reuters, mengimbau kapal-kapal pembawa minyak untuk menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur krusial bagi sekitar 20% pasokan minyak global. Sejumlah negara produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama menuju pasar Asia.

