TEHERAN — Iran menyatakan tetap berkomitmen pada penyelesaian diplomatik dengan Amerika Serikat, namun pada saat yang sama bersiap menghadapi kemungkinan munculnya konflik baru. Sikap itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan Rick Sanchez dari RT di Teheran, Selasa.
Araghchi menegaskan bahwa jalur diplomasi merupakan satu-satunya pilihan yang tersedia. Ia juga menilai teknologi dan kemajuan tidak dapat dihentikan melalui pemboman maupun ancaman militer, yang menurutnya telah memperkuat ketidakpercayaan Teheran terhadap Washington.
“Kami masih belum sepenuhnya percaya pada Amerika,” ujar Araghchi. Ia menambahkan, Iran pernah menjalani negosiasi pada Juni lalu ketika, menurutnya, Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang Iran. Araghchi menyebut peristiwa itu sebagai pengalaman yang sangat buruk bagi pihaknya.
Terkait program pengayaan uranium, Araghchi kembali menekankan bahwa kegiatan tersebut bersifat damai dan berlandaskan apa yang ia sebut sebagai hak kedaulatan negara. Ia mengatakan tingkat pengayaan ditentukan oleh kebutuhan sipil.
Menurut Araghchi, reaktor pembangkit listrik memerlukan pengayaan di bawah 5%. Sementara itu, Reaktor Penelitian Teheran—yang dibangun oleh Amerika Serikat sebelum Revolusi 1979—menggunakan bahan bakar yang diperkaya hingga 20% untuk memproduksi isotop medis yang digunakan dalam pengobatan kanker.
“Angka-angka itu tidak penting… Yang penting adalah sifat damai dari pengayaan,” kata Araghchi.

