Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman serius terkait kemungkinan serangan terhadap lokasi wisata dan area publik di berbagai belahan dunia. Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Juru bicara militer Iran, Abolfazl Shekarchi, mengatakan tempat-tempat seperti taman dan destinasi rekreasi tidak lagi aman bagi pihak yang dianggap sebagai musuh Teheran. Dalam siaran televisi pemerintah, ia menyebut Iran memiliki informasi intelijen yang membuat target-target sipil berpotensi menjadi sasaran.
“Mulai sekarang, bahkan taman, area rekreasi, dan tujuan wisata di mana pun di dunia tidak akan lagi aman bagi Anda,” kata Shekarchi.
Ancaman tersebut disampaikan saat serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran disebut masih berlangsung. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan analis internasional bahwa konflik dapat meluas hingga ke luar kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut menegaskan sikap negaranya. Ia menyatakan Iran tidak akan menahan diri jika infrastrukturnya kembali diserang, namun menekankan bahwa Teheran tidak akan memulai serangan lebih dulu.
“Iran tidak melakukan serangan mendadak. Kami hanya akan merespons dengan kuat jika diserang,” tulis Araghchi melalui media sosial.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran diduga telah merencanakan serangan terhadap negaranya. Pernyataan tersebut menambah ketegangan hubungan kedua negara.
Konflik disebut meningkat tajam sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 yang, menurut otoritas Iran, menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

