BERITA TERKINI
Iran Isyaratkan Peran Pakistan dan Turki sebagai Mediator, namun Tetap Tolak Negosiasi Langsung dengan AS

Iran Isyaratkan Peran Pakistan dan Turki sebagai Mediator, namun Tetap Tolak Negosiasi Langsung dengan AS

Teheran mulai memberi sinyal adanya celah diplomasi di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah. Meski tetap menyatakan penolakan terhadap negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, Iran mengisyaratkan kemungkinan menempuh jalur komunikasi tidak langsung melalui perantara, dengan Pakistan dan Turki disebut sebagai kandidat mediator.

Pemerintah Iran disebut membuka peluang diplomasi tidak langsung dengan AS di tengah konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan. Sumber diplomatik menyampaikan bahwa Pakistan telah lebih dulu meneruskan proposal dari Washington kepada Teheran. Islamabad juga dikabarkan siap menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi dalam waktu dekat, apabila kedua pihak bersedia.

Sementara itu, Turki juga disebut aktif berperan sebagai penghubung komunikasi. Informasi tersebut diperkuat oleh pernyataan Harun Armagan yang menyebut Ankara telah menyampaikan pesan antara dua negara yang tengah berseteru.

Meski ada indikasi ruang diplomasi di balik meningkatnya ketegangan militer, sikap resmi Iran masih menunjukkan penolakan keras terhadap perundingan langsung, terutama dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Penolakan itu disampaikan secara terbuka oleh pejabat militer Iran. Juru bicara komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan Iran tidak akan mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. “Tidak sekarang, tidak akan pernah,” ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran.

Dari Kementerian Luar Negeri Iran, juru bicara Esmail Beghaei menilai langkah militer AS telah merusak jalur diplomasi yang sebelumnya sempat berjalan, khususnya terkait pembahasan isu nuklir. Ia menyebut serangan AS sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap diplomasi” yang membuat peluang negosiasi kian mengecil. Beghaei mengatakan fokus utama Iran saat ini adalah mempertahankan kedaulatan negara di tengah konflik yang disebutnya sebagai agresi ilegal.

Di sisi lain, posisi Israel turut menjadi faktor penting dalam dinamika tersebut. Seorang pejabat pertahanan Israel menyatakan keraguan bahwa Iran akan benar-benar menerima syarat perdamaian yang diajukan. Israel menilai proposal itu bisa saja hanya menjadi titik awal negosiasi yang pada akhirnya berujung pada kompromi dari pihak AS.

Meski demikian, keterlibatan Pakistan dan Turki dinilai membuka kemungkinan baru untuk meredakan konflik, mengingat keduanya memiliki hubungan diplomatik dengan Iran maupun Amerika Serikat. Namun, situasi di lapangan menunjukkan jalan menuju perdamaian masih panjang. Pernyataan keras dari berbagai pihak serta eskalasi militer yang belum mereda membuat peluang negosiasi tetap diliputi ketidakpastian.

Di satu sisi, sinyal hadirnya mediator menunjukkan pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Namun di sisi lain, retorika politik dan militer yang kian tajam mengindikasikan konflik belum akan berakhir dalam waktu dekat.