Konflik Iran dan Israel memasuki pekan keempat dengan intensitas serangan yang dilaporkan belum mereda. Pada Rabu, militer Israel melancarkan serangan besar ke sejumlah infrastruktur di Teheran. Media Iran juga melaporkan serangan tersebut menghantam kawasan permukiman sipil.
Iran membalas melalui pasukan elit Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dengan meluncurkan serangan ke sejumlah target di Israel, termasuk Tel Aviv dan Kiryat Shmona. Iran juga disebut menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Yordania, dan Bahrain.
Di tengah eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang, dan menyebut Iran sangat ingin mencapai kesepakatan. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Iran. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menyindir pernyataan itu dengan mengatakan AS “seolah-olah bernegosiasi dengan dirinya sendiri”. Iran menegaskan tidak akan membuat kesepakatan dengan AS, baik saat ini maupun di masa depan.
Iran menyebut penolakan itu dipengaruhi pengalaman dua tahun terakhir, ketika mereka mengaku tetap diserang saat proses negosiasi masih berlangsung. Kondisi tersebut, menurut Iran, membuat kepercayaan terhadap AS runtuh.
Sementara itu, laporan media menyebut AS telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran. Rencana tersebut antara lain mencakup penghentian program nuklir Iran, penghentian dukungan kepada kelompok proksi seperti Hezbollah, serta pembukaan kembali jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.
Kekhawatiran global menguat karena Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—dilaporkan terganggu akibat konflik. Iran disebut memperketat kontrol di jalur tersebut, memicu gangguan distribusi energi. Situasi ini turut mendorong lonjakan harga bahan bakar dan memperbesar tekanan terhadap negara-negara yang bergantung pada pasokan energi melalui Selat Hormuz, terutama di Asia yang disebut menyerap lebih dari 80% minyak dari jalur itu.
Dalam perkembangan terkait respons internasional, International Energy Agency dilaporkan sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis dunia. Jepang juga disebut meminta tambahan pasokan untuk menahan dampak krisis.
Di sisi lain, harapan gencatan senjata dibayangi langkah militer tambahan. AS dikabarkan akan mengirim ribuan personel tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah, sehingga total pasukan AS di kawasan itu mendekati 50 ribu personel. Langkah ini memunculkan kekhawatiran konflik dapat berlangsung lebih lama.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif disebut menawarkan diri menjadi mediator antara AS dan Iran. Namun, dengan sikap kedua pihak yang masih keras, peluang negosiasi dinilai tetap tipis.
Perkembangan konflik ini dinilai melampaui dampak regional karena berpotensi memengaruhi harga energi, inflasi, dan stabilitas ekonomi global. Jika gangguan di Selat Hormuz memburuk, dampaknya disebut dapat merembet hingga harga BBM dan kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.

