BERITA TERKINI
Iran: AS Tak Akan Menang di Meja Diplomasi Setelah Kekalahan di Medan Perang

Iran: AS Tak Akan Menang di Meja Diplomasi Setelah Kekalahan di Medan Perang

Iran menegaskan sikapnya terhadap Amerika Serikat setelah berakhirnya konflik militer terbaru. Teheran menyatakan Washington tidak akan mampu memperoleh keunggulan di meja perundingan, seraya menilai tekanan yang selama ini dilancarkan AS tidak akan menghasilkan capaian seperti yang diharapkan Gedung Putih.

Pernyataan itu disampaikan di tengah hubungan kedua negara yang masih diliputi ketegangan. Iran menilai upaya menekan mereka untuk mencapai kesepakatan baru tidak akan berhasil, termasuk setelah gencatan senjata yang disebut terjadi pada April lalu.

Penasihat utama Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, Ali Akbar Velayati, menyampaikan respons melalui platform X. Velayati menekankan bahwa AS, menurut pandangan Iran, tidak mungkin meraih kemenangan diplomatik setelah mengalami kekalahan di medan laga.

Velayati juga menyoroti Presiden AS Donald Trump, yang ia anggap keliru menilai situasi. Ia menyebut Trump salah kaprah bila mengira dapat menekan Iran untuk menerima kesepakatan baru setelah gencatan senjata. Mantan menteri luar negeri Iran itu menantang narasi yang dinilai dibangun pihak AS, dan menegaskan agar Washington tidak membayangkan dapat menang lewat jalur diplomasi.

Pernyataan Velayati ini muncul sebagai tanggapan atas unggahan Trump di media sosial. Dalam unggahannya, Trump menuduh Iran telah meremehkan AS selama puluhan tahun dan menyampaikan ancaman bahwa Iran tidak akan lagi bisa “tertawa” di bawah kepemimpinannya.

Velayati menyindir klaim Trump terkait keberhasilan gencatan senjata yang disebut sebagai pencapaian besar. Ia juga mengkritik ancaman nuklir tersirat dari Trump, yang menurutnya merupakan upaya menutupi kerugian di pihak Amerika Serikat.

Dalam responsnya, Velayati menyampaikan sejumlah poin kritik terhadap AS. Ia menilai klaim sepihak Trump tentang kemenangan militer sebagai kebohongan publik, serta menduga adanya upaya Pentagon menyembunyikan jumlah korban jiwa tentara Amerika. Ia juga menuding isu gencatan senjata dimanfaatkan sebagai komoditas politik untuk meningkatkan citra kepemimpinan Trump, dan menilai sikap menahan diri Iran telah disalahartikan Gedung Putih sebagai tanda kelemahan.

Iran menegaskan kebijakan menahan diri yang mereka ambil tidak berarti memberi ruang bagi AS untuk bertindak sewenang-wenang. Teheran menyatakan menuntut rasa hormat dalam setiap interaksi internasional ke depan.

Velayati turut menyinggung rencana kunjungan Trump ke China dalam waktu dekat untuk membahas isu global. Ia memperingatkan agar Presiden AS tidak memanfaatkan situasi yang lebih tenang terkait Iran untuk mengklaim kemenangan di hadapan para pemimpin dunia.

Hingga kini, Iran menyatakan tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikan konsesi apa pun di bawah ancaman. Teheran menegaskan kedaulatan negara tidak dapat ditawar melalui retorika media sosial maupun tekanan ekonomi, sementara ketegangan antara kedua negara diperkirakan masih berlanjut seiring dinamika politik di Timur Tengah.