Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Iran menyatakan akan melakukan pembalasan di tengah konflik yang terus memanas, seraya tetap menunjukkan sikap menantang terhadap tekanan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Iran memperingatkan kemungkinan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk apabila serangan udara terus berlanjut. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan pihak yang disebutnya sebagai pelaku agresi harus menerima hukuman. “Kami percaya pelaku agresi harus dihukum dan diberi pelajaran agar tidak kembali menyerang Iran,” kata Ghalibaf, seperti dikutip AFP, Sabtu (14/3).
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras setelah adanya laporan intelijen yang menyebut Iran mulai memasang ranjau di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global, karena menjadi lintasan seperempat minyak dunia dan seperlima pasokan gas global.
Trump menyatakan, apabila ranjau benar-benar ditempatkan dan tidak segera disingkirkan, Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang disebutnya berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perkembangan terbaru ini menambah tekanan pada stabilitas kawasan dan turut mengguncang pasar energi global, seiring meningkatnya risiko gangguan distribusi melalui salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.

