PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merilis sejumlah saham pilihan untuk strategi trading pada periode 30 Maret hingga 2 April 2026, di tengah ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik Amerika Serikat dan Iran serta lonjakan harga energi yang memicu volatilitas pasar keuangan.
Pekan perdagangan kali ini berlangsung empat hari karena libur Jumat Agung. Meski waktu transaksi lebih singkat, dinamika geopolitik dan pergerakan harga energi diperkirakan tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pasar. Kebuntuan situasi geopolitik dinilai membuat setiap perkembangan berpotensi menggerakkan sentimen, baik melalui jalur harga energi maupun ekspektasi kebijakan moneter global.
Equity Analyst IPOT, Imam Gunadi, menyebut perhatian pelaku pasar pada awal pekan akan tertuju pada pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang dijadwalkan pada 30 Maret. Pernyataan tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga di tengah tekanan inflasi yang dipengaruhi kenaikan harga energi.
“Pasar akan mencari sinyal apakah The Fed akan tetap pada jalur kebijakan yang hati-hati atau justru membuka ruang pengetatan lebih lanjut, yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk emerging markets seperti Indonesia,” kata Imam pada Senin, 30 Maret 2026.
Selain itu, pasar juga menantikan rilis NBS Manufacturing PMI China pada 31 Maret yang diperkirakan naik ke level 50 dari sebelumnya 49. Data ini menjadi indikator penting mengingat China dipandang sebagai motor utama permintaan komoditas global. Jika data menunjukkan ekspansi, hal itu berpotensi menjadi katalis positif bagi harga komoditas. Sebaliknya, jika melemah, kekhawatiran perlambatan ekonomi global dapat meningkat.
Dari dalam negeri, rilis S&P Global Manufacturing PMI dan data inflasi Indonesia pada 1 April menjadi fokus pelaku pasar. Kedua indikator tersebut dipantau untuk membaca kondisi sektor riil dan arah kebijakan Bank Indonesia, terutama di tengah risiko imported inflation akibat kenaikan harga energi global.
Menutup pekan, perhatian pasar mengarah pada data tenaga kerja Amerika Serikat melalui rilis Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran pada 3 April. Konsensus memperkirakan NFP naik menjadi 48 ribu dari sebelumnya minus 92 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan meningkat ke 4,5% dari 4,4%.
“Data ini akan menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi AS, sekaligus penentu ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi dari energi dapat memperkuat narasi higher for longer, yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi arus dana ke pasar emerging,” ujar Imam.
Merespons kondisi tersebut, IPOT menyampaikan beberapa saham dan instrumen yang dinilai menarik di tengah volatilitas pasar.
Pertama, Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) direkomendasikan buy dengan level entry 2.540, target price 2.700, dan stop loss di bawah 2.460. IPOT menilai prospek ADRO didukung kenaikan harga batu bara global yang disebut telah menembus USD140 per ton akibat disrupsi energi dari konflik geopolitik. Pergeseran konsumsi energi global, termasuk peningkatan penggunaan batu bara di Jepang, juga dinilai memperkuat permintaan. Dengan struktur biaya yang kompetitif dan eksposur ekspor yang besar, ADRO disebut berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan momentum, ditambah potensi pelemahan rupiah yang dapat memperkuat margin.
Kedua, Bukit Asam Tbk (PTBA) direkomendasikan buy on pullback pada rentang 3.010–3.070, dengan target price 3.240 dan stop loss di bawah 2.940. IPOT menilai PTBA memiliki keseimbangan antara pasar global dan domestik. Kenaikan harga batu bara tetap menjadi katalis utama, sementara sentimen tambahan datang dari potensi peningkatan konsumsi dalam negeri seiring upaya pemerintah menjaga ketahanan energi. Struktur bisnis yang terintegrasi dan dukungan proyek hilirisasi disebut membuat PTBA lebih defensif dibanding emiten sejenis.
Dari sektor agrikultur, IPOT merekomendasikan PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan strategi buy on pullback di rentang 1.335–1.360, target price 1.415, dan stop loss di bawah 1.295. Saham ini dinilai berpeluang diuntungkan oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) yang bertahan tinggi seiring lonjakan harga minyak dunia. Peningkatan daya tarik biofuel serta percepatan program biodiesel B50 di Indonesia disebut menjadi katalis domestik. Meski ada risiko penurunan permintaan dari India, prospek CPO dinilai masih ditopang keterbatasan pasokan dan tren energi alternatif global.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) dengan entry 649, target price 678, dan stop loss di bawah 630. ETF ini berfokus pada saham-saham dengan dividend yield tinggi dan fundamental yang dinilai relatif stabil di pasar Indonesia. Dalam kondisi pasar yang volatil dan berpotensi tertekan oleh ekspektasi suku bunga, instrumen berbasis dividen dipandang lebih defensif dan berpotensi memberikan imbal hasil lebih stabil.

