JAKARTA – Direktur Eksekutif Intelligence National Security Studies (INSS) Stepi Anriani menilai Presiden Prabowo Subianto mengambil sikap yang relatif jernih dalam merespons dinamika konflik global yang melibatkan sejumlah kekuatan besar.
Menurut Stepi, pendekatan yang berhati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk berpihak secara langsung merupakan langkah paling realistis demi menjaga kepentingan nasional. Ia menilai posisi Indonesia masih sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, yakni menjaga keseimbangan dalam menghadapi konflik antarnegara tanpa kehilangan kepentingan strategis.
“Bebas aktif dan non-blok ini bukan berarti kita jadi 'banci'. Artinya ketika Bung Hatta menciptakan non-blok bebas aktif itu adalah kita boleh membela A di konflik X, membela B di konflik Y,” ujar Stepi, Minggu, 15 Maret.
Stepi mengatakan, pendekatan tersebut memungkinkan Indonesia tetap fleksibel dalam merespons situasi geopolitik yang berubah-ubah, sekaligus menghindari keterlibatan langsung dalam konflik yang dapat merugikan stabilitas nasional.
Dalam konteks konflik yang berlangsung di Timur Tengah, ia menekankan pemerintah perlu menjaga kehati-hatian karena dinamika geopolitik tidak selalu berkaitan dengan isu agama atau ideologi, melainkan lebih banyak dipengaruhi kepentingan strategis negara.
“Karena ini bukan masalah agama, bukan masalah mazhab atau apa ya. Ini adalah masalah geopolitik. Dan dalam geopolitik tidak ada halal haram. Yang ada adalah national interest, apa keamanan nasional yang harus dijaga,” kata Stepi.
Ia menilai langkah pemerintah yang tidak terburu-buru mengambil posisi konfrontatif merupakan pendekatan realistis di tengah kompleksitas konflik global. Stepi juga berpendapat Prabowo memahami dinamika geopolitik sehingga memilih bergerak hati-hati dalam menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai negara.
“Kita sebetulnya berpikir jernih. Tapi saya rasa Presiden Pak Prabowo paham sekali geopolitik dan beliau juga memainkan langkahnya dengan hati-hati betul,” ujarnya.
Stepi menegaskan kehati-hatian tersebut penting agar Indonesia tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik antarnegara yang berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas nasional maupun kepentingan strategis Indonesia di kawasan.

