Ketegangan di Laut China Selatan kembali meningkat setelah kapal penjaga pantai China diduga sengaja menabrak kapal pemerintah Filipina yang sedang berlabuh di dekat Pulau Thitu, wilayah yang diklaim oleh kedua negara. Otoritas Filipina menyatakan insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada kapal, namun tidak menimbulkan korban luka.
Menurut keterangan pihak Filipina, insiden terjadi sekitar pukul 09.15 waktu setempat. Kapal penjaga pantai China disebut lebih dulu menembakkan meriam air ke BRP Datu Pagbuaya, kapal milik Biro Perikanan Manila. Tiga menit kemudian, kapal yang sama diduga menabrak bagian buritan kapal Filipina, mengakibatkan kerusakan struktural ringan.
Foto dan video yang dirilis Penjaga Pantai Filipina memperlihatkan kapal China membayangi kapal mereka sambil mengaktifkan meriam air. Penjaga Pantai Filipina menyatakan tidak akan mundur meski menghadapi tindakan yang mereka sebut sebagai intimidasi dan agresi.
Penjaga pantai Manila menyebut peristiwa itu terjadi di sekitar Pulau Thitu, bagian dari Kepulauan Spratly yang selama ini menjadi titik panas sengketa maritim. Hingga laporan ini disampaikan, Kedutaan Besar China di Manila belum memberikan tanggapan.
Insiden terbaru ini menambah daftar bentrokan yang kerap terjadi di perairan yang sebagian besar diklaim Beijing. Bulan lalu, seorang awak kapal Filipina dilaporkan terluka akibat tembakan meriam air dari kapal penjaga pantai China yang memecahkan jendela kapal biro perikanan BRP Datu Gumbay Piang di dekat Beting Scarborough, wilayah yang kini dikuasai China.
Pada Agustus, kapal angkatan laut China juga dilaporkan bertabrakan dengan kapal penjaga pantainya sendiri saat mengejar kapal patroli Filipina di kawasan yang sama. China diketahui mengambil alih kontrol Beting Scarborough yang kaya ikan dari Filipina setelah kebuntuan panjang pada 2012.
Di sisi lain, pemerintah Filipina menolak rencana China membangun “cagar alam” di Beting Scarborough. Penasihat Keamanan Nasional Filipina, Eduardo Ano, menilai rencana tersebut sebagai dalih yang dapat membuka peluang pendudukan situs itu.
Laut China Selatan merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Lebih dari 60 persen perdagangan maritim global melintasi kawasan strategis ini, menjadikannya salah satu pusat perebutan pengaruh di Asia-Pasifik.

