London — Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai peran NATO dalam perang di Afghanistan memicu reaksi keras dari pemerintah dan sejumlah tokoh politik di Inggris. Trump sebelumnya menyatakan pasukan NATO “sedikit menjauh dari garis depan” selama konflik tersebut.
Pemerintah Inggris pada Jumat menegaskan klaim itu tidak benar. Melalui juru bicara, pemerintah menyatakan ratusan personel militer Inggris tewas di Afghanistan, sementara banyak lainnya mengalami luka serius serta cedera permanen.
“Presiden Trump keliru. Ratusan personel Inggris gugur di Afghanistan dan banyak lainnya mengalami cedera yang mengubah hidup mereka saat bertugas bersama AS dan sekutu NATO,” kata juru bicara pemerintah dalam pernyataan resmi, Sabtu, 24 Januari 2026.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey juga menyinggung bahwa Pasal 5 NATO hanya pernah diaktifkan satu kali, yakni setelah serangan 11 September 2001 di AS, dan Inggris serta sekutunya merespons permintaan tersebut. Healey menyebut lebih dari 450 personel Inggris kehilangan nyawa dalam konflik Afghanistan dan menyebut mereka sebagai pahlawan.
Kecaman turut disampaikan Menteri Angkatan Bersenjata Inggris Al Carns. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai “sangat tidak masuk akal” dan “memalukan”, seraya menegaskan bahwa pasukan sekutu berdiri bersama dalam merespons konflik itu.
Dari kubu oposisi, pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menyebut pernyataan Trump sebagai “omong kosong belaka”. Sementara itu, pemimpin Partai Demokrat Liberal Ed Davey meminta Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menuntut permintaan maaf dari Trump.
Inggris merupakan salah satu sekutu utama AS dalam perang Afghanistan sejak 2001, setelah NATO mengaktifkan klausul pertahanan kolektif menyusul serangan teroris 11 September. Pemerintah Inggris mencatat 457 personel militernya tewas selama konflik tersebut.

