Siklus ekonomi global dalam tiga tahun terakhir kembali memperlihatkan pola boom-bust-boom. Pada 2019, perekonomian dunia sempat berada dalam fase pertumbuhan (boom), lalu jatuh ke fase resesi (bust) pada 2020–2021 akibat pandemi Covid-19. Memasuki paruh kedua 2021, pemulihan mulai terbentuk dan pertumbuhan kembali positif. Namun, tren inflasi yang muncul di banyak negara menimbulkan kekhawatiran pemulihan itu dapat berbalik arah menuju fase penurunan kembali.
Pemicu inflasi: lonjakan permintaan dan pasokan yang belum pulih
Pertumbuhan ekonomi global sejak semester II 2021 ditopang oleh meredanya penularan Covid-19 yang mendorong konsumsi masyarakat naik, pabrik kembali beroperasi, dan permintaan investasi menggeliat. Pada awal 2022, konsumsi disebut melonjak tinggi seiring menurunnya kasus.
Di saat yang sama, kapasitas produksi dinilai belum siap menghadapi lonjakan permintaan dalam waktu singkat. Situasi ini diperburuk oleh rantai pasok (supply chain) bahan baku yang belum pulih, sehingga pasokan untuk proses produksi terbatas. Kombinasi permintaan yang meningkat dan pasokan yang tertahan mendorong kenaikan inflasi di banyak negara.
Tren inflasi di berbagai kawasan
Sejumlah data menunjukkan inflasi meningkat di berbagai negara dan kawasan. Di Amerika Serikat, inflasi Januari 2022 tercatat 7,5% (year-on-year/yoy) dan pada Mei 2022 meningkat menjadi 8,6% (yoy). Di Uni Eropa, inflasi Mei 2022 diperkirakan mencapai 8,1%, naik dari 5,6% pada Januari 2022.
Di Amerika Latin, inflasi juga tinggi, antara lain Argentina 58% pada April 2022 dan Brasil 10,1% pada Mei 2022. Di Asia (di luar Tiongkok dan Jepang), inflasi pada Mei 2022 juga menunjukkan kenaikan, antara lain Korea Selatan 5,4%, Taiwan 2,7%, Indonesia 3,55%, dan India 7,5%. Pergerakan serentak di banyak kawasan ini menggambarkan tekanan inflasi yang bersifat global.
Krisis energi dan pangan memperparah tekanan harga
Tekanan inflasi disebut makin berat akibat krisis energi dan pangan. Pada semester II 2021, harga energi sudah menunjukkan kenaikan dan beberapa negara mengalami krisis energi. Perang Rusia–Ukraina yang dimulai Februari 2022 memperburuk kondisi pasar energi.
Embargo pembelian minyak dan gas alam dari Rusia oleh negara-negara Barat mendorong harga minyak mentah naik. Rata-rata harga minyak mentah pada akhir Desember 2021 berada di kisaran US$78–US$80 per barel, lalu pada Mei 2022 mencapai US$110–US$115 per barel. Kenaikan ini diikuti lonjakan harga batu bara, dari sekitar US$159 per ton pada akhir Desember 2021 menjadi US$275 per ton.
Efek domino inflasi terhadap masyarakat dan ekonomi
- Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Inflasi mendorong naiknya harga barang dan jasa, termasuk bahan makanan, tarif listrik, serta ongkos transportasi akibat harga BBM yang lebih mahal.
- Tekanan biaya hidup dan risiko krisis pangan. Kenaikan harga pangan dikhawatirkan memicu krisis pangan, sementara kemampuan masyarakat berbeda-beda. Kelompok menengah atas dinilai lebih mampu menyerap kenaikan harga, sedangkan kelompok miskin dan berpenghasilan rendah lebih rentan karena tabungan terbatas.
- Beban pemerintah dan biaya usaha meningkat. Meningkatnya biaya hidup dapat mendorong pemerintah memperbesar bantuan keuangan atau subsidi. Pelaku usaha, termasuk lembaga jasa keuangan dan UMKM, juga menghadapi kebutuhan menaikkan gaji atau upah, yang pada akhirnya berpotensi dibebankan kembali kepada konsumen melalui kenaikan harga.
- Potensi bertambahnya kemiskinan. Inflasi berkepanjangan dapat memperdalam kemiskinan, terutama di negara-negara miskin, termasuk di Afrika, serta negara berkembang yang masih memiliki kelompok masyarakat miskin.
- Turunnya kemampuan menabung. Ketika pengeluaran meningkat untuk membeli barang dan jasa yang sama, sisa uang yang biasanya dialokasikan untuk tabungan berkurang.
- Dampak moneter: likuiditas dan kredit. Inflasi yang berkepanjangan dapat mengurangi likuiditas pasar, membuat biaya bunga pinjaman lebih mahal, dan menurunkan permintaan kredit.
- Risiko perlambatan pertumbuhan dan resesi. Inflasi tinggi yang berlangsung lama dikhawatirkan menghambat pertumbuhan ekonomi global yang baru mulai pulih, di tengah perjuangan menghadapi krisis energi dan pangan.
Opsi mitigasi untuk mencegah ekonomi kembali melemah
Untuk mengendalikan tekanan inflasi dan mencegah pemulihan berbalik arah, sejumlah opsi kebijakan disebut dapat ditempuh.
- Kontraksi kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan. Langkah ini bertujuan membatasi jumlah uang beredar. Contoh yang disebut antara lain Reserve Bank of Australia (RBA) yang pada Mei 2022 menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (0,5%) dari 0,35% menjadi 0,85% per 7 Juni 2022. The Federal Reserve pada 15 Juni 2022 menaikkan suku bunga 75 basis poin (0,75%) sehingga berada di kisaran 1,5%–1,75%.
- Pengetatan giro wajib minimum (GWM) atau reserve requirement. Dengan menaikkan GWM, likuiditas bank berkurang karena lebih banyak dana tersimpan di bank sentral, sehingga kemampuan menyalurkan pinjaman menurun. Kebijakan ini diarahkan untuk meredam permintaan kredit konsumtif yang dapat memicu inflasi.
- Kebijakan fiskal melalui penyesuaian pajak. Pemerintah dapat menaikkan tarif pajak penghasilan maupun pajak atas barang dan jasa tertentu untuk sementara waktu guna mengerem konsumsi, hingga kondisi kembali normal.
Di tengah pemulihan pascapandemi, tren inflasi yang meluas menjadi tantangan besar bagi banyak negara. Tekanan dari sisi permintaan, gangguan pasokan, serta lonjakan harga energi dan batu bara memperbesar risiko inflasi yang bertahan lama dan menekan pertumbuhan ekonomi.

