Sentimen pasar global kembali dibayangi tekanan inflasi serta lonjakan kasus Covid-19 di China. Kebijakan zero Covid di negara tersebut dikhawatirkan memicu lockdown secara luas dan mengganggu peran China sebagai “pabrik dunia”.
Di tengah kondisi itu, Samuel dari Manulife Asset Management menilai pasar saham Indonesia justru konsisten mencatat kinerja positif sepanjang tahun ini. Ia menyebut Indonesia berada pada posisi sweet spot yang membuat pasar domestik kembali dilirik investor.
Faktor yang Mendukung Pasar Saham Indonesia
Samuel memaparkan sejumlah katalis yang dinilai menopang kinerja pasar saham Indonesia.
- Perspektif makroekonomi: Indonesia berada dalam siklus pemulihan yang menarik bagi investor yang mencari pertumbuhan di tengah tren normalisasi ekonomi.
- Keunggulan sebagai net eksportir komoditas: Indonesia dipandang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas dan berpotensi menjadi tempat berlindung bagi investor global.
- Stabilitas rupiah dan fundamental makro yang solid.
- Posisi geopolitik yang relatif netral: Sikap Indonesia dan ASEAN yang netral di tengah tensi geopolitik Barat dan Rusia dinilai meminimalkan risiko geopolitik terhadap Indonesia.
“Secara keseluruhan kami memandang positif outlook pasar Indonesia tahun ini didukung oleh bauran faktor pendukung dari pemulihan ekonomi domestik dan dinamika pasar global yang suportif bagi Indonesia,” ujar Samuel.
Dampak Arah Kebijakan The Fed
Terkait kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menjadi 0,5% pada Maret dan sinyal pengetatan yang lebih agresif, Samuel menyebut rapat FOMC bulan tersebut menjadi titik balik. Menurutnya, The Fed menegaskan fokus kebijakan untuk menanggulangi inflasi serta menilai kondisi ekonomi cukup kuat menghadapi kenaikan suku bunga.
Ia menilai kejelasan arah kebijakan itu mengurangi spekulasi dan mendukung perbaikan sentimen, tercermin dari penguatan indeks S&P 500 setelah rapat FOMC. Samuel juga mengatakan pasar telah memperhitungkan langkah agresif The Fed, sehingga kenaikan suku bunga yang agresif dinilai tidak berdampak negatif bagi outlook pasar saham.
Namun, ia menilai ekspektasi pasar berpotensi terlalu agresif. Berdasarkan data Bloomberg, ekspektasi pasar untuk Fed rate dapat mencapai 2,25%–2,50% tahun ini, lebih tinggi dari median proyeksi The Fed di level 2%. Karena itu, menurutnya terdapat potensi kabar baik bagi pasar apabila kenaikan suku bunga tidak seagresif ekspektasi tersebut.
Kenaikan Harga Komoditas dan Implikasinya
Menanggapi pandangan bahwa kenaikan harga komoditas merugikan kawasan Asia, Samuel menilai penilaian tersebut terlalu generik karena Asia sangat beragam. Negara penghasil komoditas seperti Indonesia, menurutnya, diuntungkan oleh harga komoditas yang tinggi.
Ia menambahkan, negara importir komoditas pun belum tentu dirugikan apabila didukung ekspor yang kuat. Samuel mencontohkan Korea Selatan dan Taiwan yang ditopang ekspor elektronik dan semikonduktor seiring tren digitalisasi.
“Secara keseluruhan kami melihat Asia sebagai kawasan yang menarik bagi investor untuk diversifikasi dari kawasan Eropa yang terekspos pada Rusia, atau Amerika Serikat yang memasuki siklus pengetatan suku bunga,” kata Samuel.
Untuk Indonesia, Samuel menilai dampak kenaikan harga komoditas terhadap inflasi cenderung lebih gradual dibanding negara maju. Salah satu alasannya, terdapat sejumlah barang yang harganya diatur pemerintah sehingga dapat menjadi bantalan saat harga komoditas naik.
Konsekuensinya, menurut Samuel, terdapat tekanan fiskal untuk subsidi. Meski demikian, ia menilai pendapatan pemerintah berpotensi lebih baik tahun ini karena kontribusi dari komoditas, yang dapat mengurangi tekanan fiskal.
Samuel juga menyampaikan bank sentral masih mempertahankan pandangan akomodatif meski prospek inflasi meningkat. Bank Indonesia menegaskan suku bunga rendah dipertahankan sampai muncul tekanan inflasi yang bersifat fundamental, terlihat pada inflasi inti, dan tidak merespons secara langsung kenaikan harga yang volatil maupun yang diadministrasi.
Ia memperkirakan suku bunga belum berubah selama inflasi inti terjaga, sementara rupiah didukung stabilitas eksternal yang baik.
Strategi Pengaturan Portofolio
Dalam menghadapi dinamika pasar, Samuel mengatakan strategi portofolio difokuskan pada tema besar yang secara fundamental mendukung Indonesia.
- Tema pemulihan dan pent-up demand: Sektor yang dinilai potensial antara lain perbankan dan properti.
- Tema struktural: Sektor terkait ekonomi digital serta green economy yang berhubungan dengan rantai pasokan energi terbarukan.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut menarik seiring potensi ekonomi digital Indonesia yang besar dan tren global menuju penggunaan energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil.
Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet sebelum berinvestasi.

