BERITA TERKINI
Industri Furnitur Nilai Konflik Global Belum Berdampak Langsung, Ekspor RI Dibidik Rp 101,6 Triliun

Industri Furnitur Nilai Konflik Global Belum Berdampak Langsung, Ekspor RI Dibidik Rp 101,6 Triliun

JAKARTA — Ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan dunia. Namun, industri furnitur Indonesia menilai situasi tersebut sejauh ini belum memberikan dampak langsung terhadap pasar ekspor nasional.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, pasar utama furnitur Indonesia masih didominasi Amerika Serikat dan Eropa. Karena itu, dampak konflik dinilai tidak secara langsung dirasakan oleh industri dalam negeri.

“Dampak terhadap industri furnitur Indonesia tidak bersifat langsung karena pasar utama ekspor furnitur nasional masih didominasi oleh Amerika Serikat dan Eropa,” kata Sobur dalam keterangan resmi, Senin (9/3/2026).

Meski demikian, Sobur mengingatkan pelaku industri tetap perlu mencermati potensi kenaikan biaya logistik dan energi global yang dapat memengaruhi distribusi serta biaya produksi. Menurut dia, kondisi geopolitik yang tidak menentu bisa mendorong pembeli global mencari negara dengan rantai pasok yang stabil dan lingkungan bisnis yang relatif aman.

“Dalam situasi dunia yang tidak pasti, buyers global akan semakin mencari negara yang memiliki supply chain stabil, produksi yang dapat diandalkan, serta lingkungan bisnis yang relatif aman,” ujarnya.

Sobur menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk memanfaatkan peluang tersebut, termasuk stabilitas politik dan dukungan sistem legalitas kayu melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). Selain itu, industri furnitur nasional yang telah berkembang selama puluhan tahun dinilai berada pada posisi strategis untuk memperkuat perannya dalam rantai pasok furnitur dunia.

Di tengah persaingan global, Sobur juga menekankan bahwa masa depan industri furnitur Indonesia tidak hanya bergantung pada volume produksi, tetapi pada kemampuan menghadirkan produk bernilai tambah tinggi. Ia menyebut furnitur Indonesia memiliki karakter khas karena memadukan material alami seperti kayu, rotan, dan bambu, dengan keahlian kriya yang diwariskan turun-temurun serta desain yang terinspirasi dari keragaman budaya Nusantara.

Menurut dia, kombinasi material alami, keterampilan kriya, dan inspirasi budaya tersebut membentuk identitas kuat yang sulit ditiru negara lain. “Keunggulan Indonesia bukan hanya pada produksi, tetapi pada kreativitas desain dan nilai budaya yang melekat pada setiap produk,” kata Sobur. “Inilah yang menjadi diferensiasi furnitur Indonesia di pasar global,” tambahnya.