JAKARTA — Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan tetap menjaga netralitas di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Santo Darmosumarto, dalam konferensi pers pada Jumat (6/3). Menurut Santo, Indonesia berpegang pada prinsip konstitusional untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia.
“Sebagai bentuk implementasi dari politik luar negeri kita yang bebas aktif, Indonesia berusaha menjadi ‘honest broker’, bukan pihak yang memihak salah satu negara dalam konflik ini,” kata Santo.
Santo menjelaskan, langkah konkret yang diambil pemerintah antara lain menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat agar segera menghentikan kekerasan. Sejak pecahnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Sabtu (28/2), Indonesia telah menyampaikan pernyataan yang mendesak agar deeskalasi segera dilakukan.
Selain itu, pemerintah juga melakukan komunikasi diplomatik dengan negara-negara di kawasan untuk mendorong dialog dan diplomasi sebagai jalan menuju penyelesaian damai. Santo menyebut Menteri Luar Negeri Sugiono telah melakukan komunikasi telepon dengan sejumlah mitra, termasuk dari Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Di tingkat kepala negara, Presiden Prabowo Subianto juga disebut melakukan komunikasi dengan para pemimpin Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania, dengan menekankan pendekatan damai yang berbasis pada hukum internasional.

