Jakarta — Indonesia menghadapi tantangan ganda dalam menjaga ketahanan pangan, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan ancaman siklus El Nino yang diperkirakan mulai terjadi pada April. Pemerintah menilai kedua faktor tersebut berpotensi menekan pasokan dan harga pangan, namun Kementerian Pertanian menyatakan telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga produksi dan ketersediaan.
Konflik di Timur Tengah, dengan meningkatnya tensi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dinilai dapat mengganggu rantai pasok global. Dampaknya berpotensi memicu kenaikan harga komoditas, termasuk gandum, kedelai, dan minyak nabati yang sebagian besar masih diimpor Indonesia. Kenaikan harga komoditas tersebut berisiko menekan daya beli, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, El Nino—fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik—umumnya memicu musim kemarau lebih panjang dan kering. Kondisi ini dapat mengganggu produksi pertanian, terutama padi, jagung, dan kedelai, serta meningkatkan risiko gagal panen, penurunan produktivitas, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia memiliki pengalaman menghadapi El Nino yang lebih berat, seperti pada 2015–2016 dan 2023. Menurut dia, pengalaman tersebut menjadi modal dalam menyusun strategi mitigasi dan adaptasi. Ia mencontohkan penanganan pada El Nino 2023, ketika pemerintah menekan realisasi impor beras dari perkiraan 10 juta ton menjadi sekitar 3 juta ton.
“Kita menghadapi dua tantangan, kondisi geopolitik yang memanas dan pengumuman BMKG tentang kekeringan. Keduanya harus kita jawab. Kita punya pengalaman menghadapi El Nino yang paling keras. El Nino ini akan datang bulan April. Kita hadapi El Nino yang paling dahsyat di 2023, dan Alhamdulillah kita bisa lolos. Dari rencana impor waktu itu 10 juta, kita redam hanya 3 juta lebih,” ujar Amran dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian.
Pemerintah juga meyakini El Nino tahun ini tidak separah periode sebelumnya. Kesiapan infrastruktur dan program dinilai menjadi faktor penopang. Salah satu langkah utama adalah pompanisasi untuk menjangkau sekitar 1,2 juta hektare lahan pertanian yang terdampak kekurangan air, terutama lahan tadah hujan. Selain itu, pemerintah menyiapkan tambahan sekitar 1 juta hektare lahan yang dapat diairi pada musim kemarau melalui pemanfaatan pompa, sumur dalam, dan jaringan irigasi.
Amran menegaskan kesiapan tersebut ditujukan agar lahan tetap produktif saat ketersediaan air menurun. “Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare. Pompa coverage-nya bisa menjangkau pompa kita 1,2 juta hektare yang tadah hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare. Jadi, 2 juta nanti kita siapkan yang pada saat musim kering bisa kita airi. Pompanisasi sungai-sungai dan seluruhnya, sumur dalam, sumur dangkal kita sudah siapkan. Jadi, infrastruktur sudah siap,” kata dia.
Selain pompanisasi, pemerintah mendorong penerapan teknologi pertanian modern, seperti irigasi tetes dan perbaikan sistem drainase, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. Pemerintah juga menyiapkan pelatihan dan pendampingan bagi petani terkait praktik pertanian berkelanjutan, termasuk penggunaan pupuk organik, pengendalian hama terpadu, serta konservasi tanah dan air.
Dari sisi produksi, Amran menyatakan produksi beras nasional berjalan setiap bulan pada kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton, sementara kebutuhan nasional berada di sekitar 2,5 juta ton per bulan. Pemerintah juga menugaskan Perum Bulog menjaga stok beras dan melakukan operasi pasar bila terjadi lonjakan harga, serta bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memantau harga dan pasokan di pasar tradisional.
Amran juga menyampaikan perhitungan pemerintah mengenai ketahanan cadangan pangan nasional. Ia menyebut cadangan pangan saat ini diperkirakan mampu bertahan hingga sekitar 324 hari. Cadangan itu disebut berasal dari stok beras di Perum Bulog sekitar 3,7 juta ton serta potensi produksi dari standing crop atau padi yang masih di sawah dan siap panen sekitar 10–11 juta ton.
“Alhamdulillah setelah kami menghitung kekuatan pangan kita dengan kondisi geopolitik yang memanas, pangan kita, cadangan kita sampai dengan hari ini itu tersedia sampai dengan 324 hari,” ujar Amran.
Meski demikian, ia menekankan produksi tetap berjalan setiap bulan dan tidak semata mengandalkan cadangan. “Produksi kita terus berjalan setiap bulan antara 2,6 juta sampai 5,3 juta ton. Jadi, insyaallah pangan kita aman,” tutupnya.
Dengan kombinasi risiko geopolitik dan iklim, pemerintah menilai kesiapan infrastruktur, pengalaman penanganan El Nino sebelumnya, serta langkah stabilisasi pasokan dan harga menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global.

