BERITA TERKINI
Indonesia Hadapi Dilema Diplomasi di Tengah Memanasnya Konflik Iran dengan AS dan Israel

Indonesia Hadapi Dilema Diplomasi di Tengah Memanasnya Konflik Iran dengan AS dan Israel

Memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel ikut memunculkan pertanyaan di dalam negeri: di mana posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik tersebut. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, anggota G20, dan peserta aktif berbagai forum internasional, sikap Indonesia kerap menjadi perhatian dalam isu-isu global.

Dalam konteks ini, Indonesia tidak menempatkan diri pada kerangka keberpihakan militer. Pemerintah cenderung menekankan jalur diplomasi dan prinsip hukum internasional sebagai pijakan utama dalam merespons konflik yang berpotensi meluas.

Sejumlah pernyataan resmi menegaskan dua hal: penghormatan terhadap kedaulatan negara serta pentingnya penyelesaian konflik melalui perundingan. Indonesia juga menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghindari tindakan militer sepihak yang dapat memperbesar eskalasi.

Sikap tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri “bebas dan aktif”. “Bebas” dimaknai sebagai tidak terikat pada blok kekuatan tertentu, sementara “aktif” berarti tidak bersikap pasif terhadap persoalan internasional, melainkan berupaya berkontribusi bagi perdamaian.

Landasan sikap itu juga dikaitkan dengan amanat konstitusi. Pembukaan UUD 1945 menyebut tujuan Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Karena itu, dalam berbagai konflik internasional, Indonesia kerap mengambil posisi mendorong dialog dan menolak perluasan perang.

Di balik pendekatan diplomatik, terdapat dimensi strategis yang turut menjadi pertimbangan. Konflik besar di Timur Tengah berpotensi berdampak pada ekonomi global, termasuk melalui fluktuasi harga energi dan gangguan stabilitas perdagangan internasional. Bagi Indonesia yang ekonominya semakin terintegrasi dengan pasar global, meluasnya konflik dipandang dapat menimbulkan risiko yang tidak kecil.

Selain aspek ekonomi, stabilitas Timur Tengah juga bersinggungan dengan dimensi sosial, kemanusiaan, dan keagamaan. Kawasan tersebut memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Indonesia, termasuk karena keberadaan warga negara Indonesia yang bekerja di sana serta aktivitas perjalanan ibadah umrah dan haji yang berlangsung setiap tahun.

Dalam sejumlah forum internasional, Indonesia juga kerap diposisikan sebagai “bridge builder” atau jembatan dialog di antara pihak-pihak yang berseberangan. Peran ini dinilai relevan karena Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, namun memiliki kepedulian terhadap perdamaian dan stabilitas global.

Di tingkat domestik, cara masyarakat memandang konflik juga beragam. Sebagian melihatnya sebagai rivalitas geopolitik global, sementara yang lain menilainya dari sudut solidaritas dunia Islam. Keragaman ini menunjukkan isu Timur Tengah memiliki resonansi emosional yang kuat di Indonesia.

Secara umum, posisi Indonesia dapat dirangkum sebagai upaya mendukung perdamaian tanpa terjebak dalam politik blok kekuatan. Indonesia dinilai tidak berkepentingan memperpanjang konflik, dan justru memiliki kepentingan besar agar stabilitas global tetap terjaga—sejalan dengan prinsip politik luar negeri dan amanat konstitusi.