Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menilai eskalasi konflik di Timur Tengah belum memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap perdagangan Indonesia. Penilaian ini didasarkan pada porsi perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut yang relatif kecil.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan risiko utama justru muncul melalui jalur tidak langsung, terutama dari pergerakan harga energi dan kondisi ekonomi global.
“Dampak terbesar bukan dari perdagangan langsung, melainkan melalui kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan industri di negara mitra dagang utama,” ujar Rini dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indonesia Eximbank Institute, ekspor Indonesia ke Timur Tengah tercatat sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta kendaraan bermotor.
Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut sekitar 3,9% dan didominasi komoditas energi, khususnya minyak. Struktur ini menunjukkan keterkaitan langsung Indonesia dengan kawasan konflik masih terbatas.
Indonesia Eximbank Institute menilai kinerja ekspor nasional lebih banyak dipengaruhi kondisi ekonomi di kawasan tujuan utama lainnya, seperti Asia Timur, Asia Tenggara, Amerika Utara, Asia Selatan, dan Eropa Barat.
Meski dampak langsung dinilai terbatas, LPEI menyatakan tetap memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait stabilitas jalur distribusi energi global.
“Kami mencermati keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” kata Rini.
Timur Tengah diketahui menyumbang lebih dari 30% produksi minyak global, dengan sekitar 20–30% perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global.
Walaupun Indonesia disebut tidak secara langsung mengimpor minyak dari Timur Tengah, dampaknya tetap dapat terasa melalui jalur regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang bergantung pada pasokan minyak mentah dari kawasan tersebut.
Kenaikan harga energi global berpotensi menekan biaya produksi domestik. Selain itu, perubahan distribusi energi juga dapat memengaruhi negara mitra dagang utama Indonesia seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan pasar ekspor strategis bagi Indonesia sehingga kenaikan biaya energi yang memicu perlambatan industri berisiko menekan permintaan atas produk ekspor Indonesia.
Indonesia Eximbank Institute memperkirakan harga minyak global sepanjang 2026 dapat bergerak di kisaran USD85 hingga USD120 per barel, lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang berada di sekitar USD60 per barel.
Di sisi lain, kenaikan harga energi dan logistik dinilai dapat meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global, termasuk manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Kondisi ini berpotensi menggerus margin eksportir, terutama di tengah kemungkinan pelemahan permintaan global.
Rini juga menyoroti risiko volatilitas pasar keuangan yang dapat menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan menambah tekanan pada industri berorientasi ekspor.
Namun, Indonesia Eximbank Institute menilai sejumlah komoditas Indonesia berpotensi diuntungkan. Batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) diperkirakan menguat seiring meningkatnya permintaan global.
“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro masih dapat menopang kinerja ekspor dalam jangka pendek. Namun, risiko pada sektor industri dan logam tetap perlu diwaspadai,” ujar Rini.

