Jakarta — Pemerintah Indonesia mencari sumber pasokan baru bahan baku plastik di tengah krisis global yang dipicu gangguan rantai pasok akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada impor naphta dari wilayah tersebut sebagai bahan baku biji plastik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pasokan naphta dari Timur Tengah terganggu seiring dampak perang. Kondisi itu turut memengaruhi ketersediaan bahan baku untuk industri plastik di dalam negeri.
Untuk mitigasi jangka pendek, pemerintah mulai menjajaki alternatif pasokan dari sejumlah negara, antara lain India, Amerika Serikat, dan kawasan Afrika. Budi menyebut komunikasi dengan produsen di negara-negara tersebut sudah dilakukan, namun realisasi pasokan membutuhkan waktu.
“Jadi kami sudah komunikasi dengan para produsen, memang sudah dapat, cuma mungkin jumlahnya atau perlu waktu juga karena berpindah, dan sekarang kondisi perang pengapalan juga agak lambat,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin.
Selain itu, pemerintah juga mengoordinasikan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk membantu mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain.
Budi mengakui krisis bahan baku plastik saat ini bersifat global. Sejumlah negara produsen seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura disebut mengalami gangguan produksi serupa.
Terkait impor dari negara alternatif, Budi mengatakan prosesnya sudah berjalan, namun kedatangan barang masih memerlukan waktu. Untuk sementara, industri masih mengandalkan stok yang tersedia.
“Impor dari tiga negara tadi sudah diproses. Cuma kan perlu waktu. Jadi sekarang masih proses dengan stok yang ada,” ujarnya.
Pemerintah berupaya mempercepat kedatangan pasokan baru untuk meredam kekhawatiran pelaku usaha dan pedagang yang mulai terdampak kenaikan harga plastik. Namun, Budi belum dapat memastikan kapan harga plastik kembali stabil karena bergantung pada perkembangan situasi global serta kelancaran pasokan dari negara alternatif.
Adapun harga plastik di pasaran dilaporkan naik sekitar 30–40 persen per April 2026. Kenaikan ini terutama dikaitkan dengan lonjakan harga naphta akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan di Selat Hormuz yang menghambat pasokan minyak mentah sebagai bahan dasar pembuatan biji plastik.