BERITA TERKINI
Indeks Jobstreet: Pekerja Indonesia Tertinggi Tingkat Kebahagiaannya di Asia Pasifik

Indeks Jobstreet: Pekerja Indonesia Tertinggi Tingkat Kebahagiaannya di Asia Pasifik

Pekerja Indonesia mencatatkan tingkat kebahagiaan tertinggi di kawasan Asia Pasifik di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global. Temuan ini tercantum dalam Workplace Happiness Index 2025-2026 yang dirilis Jobstreet by SEEK, dengan 82% pekerja di Indonesia menyatakan bahagia atau sangat bahagia di tempat kerja.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding sejumlah negara dengan pasar kerja yang lebih mapan, seperti Hong Kong (47%), Singapura (56%), dan Australia (57%). Dalam pemaparan hasil riset di Kantor Jobstreet by SEEK Jakarta pada Selasa (3/2/2026), Acting Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, menyebut kebahagiaan pekerja di Indonesia tidak terutama didorong oleh gaji, melainkan faktor yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.

“Yang paling besar membuat karyawan bahagia itu justru rekan kerja dan lingkungan sosialnya,” kata Wisnu.

Berdasarkan laporan tersebut, 77% pekerja Indonesia mengaku paling bahagia karena hubungan dengan kolega. Faktor berikutnya adalah lokasi kerja (76%) serta rasa bahwa pekerjaan memiliki makna atau purpose (75%). Laporan itu juga menempatkan work-life balance sebagai salah satu pendorong utama kebahagiaan kerja di Indonesia.

Wisnu menilai budaya kerja yang relatif lebih positif membuat pekerja Indonesia memaknai pekerjaan secara berbeda dibanding negara yang sangat kompetitif. Menurut dia, tekanan kerja di negara seperti Hong Kong atau Singapura lebih tinggi, dengan tuntutan output maksimal dalam waktu kerja yang lebih singkat. Sementara itu, ia menilai di Indonesia faktor kebersamaan dan rasa syukur masih kuat.

Meski bukan faktor utama, pendapatan tetap berpengaruh terhadap kebahagiaan. Laporan tersebut mencatat, pekerja dengan pendapatan di atas Rp8 juta per bulan memiliki tingkat kebahagiaan hingga 94%, lebih tinggi dibanding mereka yang berpenghasilan di bawah Rp2,4 juta dengan tingkat kebahagiaan sekitar 59%.

Namun, Wisnu menekankan hubungan antara gaji dan kebahagiaan tidak selalu meningkat tanpa batas. Menurutnya, selama gaji membantu memenuhi kebutuhan dasar dan memberi ruang untuk mewujudkan tujuan, kebahagiaan cenderung naik. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, faktor seperti kualitas hidup, waktu luang, dan tekanan kerja dinilai lebih menentukan.

Dari sisi industri, sektor teknologi mencatat tingkat kebahagiaan tertinggi sebesar 93%, disusul manufaktur (87%). Industri administrasi, customer service, dan penjualan berada di kisaran 82%, sementara layanan profesional menjadi yang terendah di antara sektor yang disurvei, sekitar 77%.

Wisnu menilai sektor dengan struktur kerja yang lebih jelas, peluang pengembangan, serta dukungan teknologi cenderung menghadirkan pengalaman kerja yang lebih positif. “Kalau perannya jelas, kontribusinya terasa, dan bebannya relatif terukur, karyawan lebih mudah merasa puas,” ujarnya.

Secara wilayah, Jabodetabek disebut sebagai kawasan dengan pekerja paling bahagia, seiring akses terhadap peluang kerja, pendapatan, dan fleksibilitas yang lebih besar dibanding wilayah lain. Meski demikian, Wisnu mengingatkan tingginya indeks kebahagiaan tidak semestinya membuat perusahaan berpuas diri. “Bahagia bukan berarti tanpa masalah. Data ini justru jadi pengingat bahwa kebahagiaan kerja perlu dijaga, bukan diasumsikan,” tutupnya.