BERITA TERKINI
INDEF Nilai Lonjakan Harga Minyak Dunia Bisa Jadi Momentum Percepat Hilirisasi Industri RI

INDEF Nilai Lonjakan Harga Minyak Dunia Bisa Jadi Momentum Percepat Hilirisasi Industri RI

Jakarta — Lonjakan harga minyak dunia di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dinilai tidak hanya membawa risiko bagi perekonomian Indonesia. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik Rachbini menilai situasi ini juga dapat menjadi peluang untuk mendorong perubahan arah pembangunan ekonomi, terutama melalui percepatan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.

Didik menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini cenderung stagnan di kisaran 5% karena masih bertumpu pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah. Menurutnya, tanpa perubahan strategi, laju pertumbuhan akan sulit menembus level yang lebih tinggi.

Ia mendorong percepatan hilirisasi pada berbagai komoditas, seperti nikel, bauksit, kakao, rumput laut, perikanan, hingga crude palm oil (CPO). “Harus percepat hilirisasi nikel, bauksit, kakao, rumput laut, perikanan, CPO, dan sebagainya,” ujar Didik dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4).

Menurut Didik, penguatan sektor industri berbasis sumber daya menjadi kunci untuk keluar dari jebakan pertumbuhan moderat. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembangunan industri pengolahan seperti smelter, pengembangan biofuel, serta dorongan menuju industri hijau.

Dalam kerangka itu, komoditas unggulan Indonesia dinilai tidak cukup jika hanya dijual dalam bentuk mentah. Nilai tambah perlu dikejar di dalam negeri agar dampak ekonominya lebih terasa, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan penerimaan negara.

Didik juga menyoroti peluang fiskal yang dapat muncul dari kenaikan harga komoditas global melalui windfall profit. Tambahan pendapatan tersebut, menurutnya, bisa dimanfaatkan untuk membiayai agenda transisi energi yang selama ini kerap menghadapi kendala pendanaan.

“Windfall profit dapat menjadi sumber pembiayaan transisi energi menuju energi hijau,” ujarnya.

Ia menilai langkah ini penting agar Indonesia tidak hanya bersikap reaktif terhadap gejolak energi global, tetapi juga mulai membangun fondasi ekonomi rendah karbon yang lebih tangguh ke depan. Dengan demikian, tekanan global dapat menjadi momentum untuk mendorong pembangunan yang lebih bernilai tambah dan berkelanjutan.