JAKARTA — Ketegangan geopolitik dinilai berpotensi memberi dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu efek yang paling cepat terasa adalah kenaikan inflasi, terutama pada sektor pangan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keberlanjutan berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, dalam situasi krisis global harga pangan cenderung meningkat. Menurutnya, kondisi itu dipicu oleh gangguan rantai pasok global, naiknya biaya logistik, serta ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.
“Ketika harga pangan naik, maka biaya penyediaan makanan bergizi dalam program pemerintah juga ikut meningkat. Di sisi lain, pemerintah memiliki keterbatasan ruang fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,” kata Esther di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menekankan, anggaran negara tidak hanya dialokasikan untuk satu program prioritas. Pemerintah juga perlu membiayai kebutuhan lain seperti subsidi energi, belanja infrastruktur, perlindungan sosial, pendidikan, hingga kesehatan. Karena itu, dalam kondisi tekanan global, pemerintah diminta berhati-hati agar program yang dijalankan tidak membebani fiskal secara berlebihan.
Meski demikian, Esther menilai program MBG tetap perlu dipertahankan karena merupakan janji politik Presiden sekaligus program strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, ia menyarankan agar pelaksanaannya tidak dilakukan secara masif di seluruh wilayah dalam waktu bersamaan.
Menurut Esther, program MBG sebaiknya difokuskan terlebih dahulu pada daerah dengan tingkat stunting tinggi dan wilayah yang paling membutuhkan, seperti kawasan 3T. Pendekatan yang lebih terarah dinilai dapat membuat penggunaan anggaran lebih efisien dan tepat sasaran.
“Jika program dijalankan secara masif di tengah tekanan fiskal, dikhawatirkan akan mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam merespons gejolak ekonomi global, apalagi jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujarnya.
Esther juga menyoroti potensi dampak konflik geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ia menilai konflik tersebut berisiko menghambat perdagangan internasional, terutama pada jalur distribusi energi dan bahan baku industri. Ketika distribusi global terganggu, biaya logistik meningkat dan harga bahan baku impor ikut naik.
Indonesia, yang masih bergantung pada impor sejumlah bahan baku, disebut akan terkena dampak lanjutan. Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor dapat mendorong kenaikan harga produk dalam negeri.
“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka inflasi akan meningkat dan daya beli masyarakat bisa tertekan. Pada akhirnya, situasi tersebut juga akan memengaruhi keberlanjutan program sosial pemerintah,” kata Esther.