BERITA TERKINI
INDEF: Eskalasi Perang Israel-AS dan Iran Tekan Rupiah, Daya Beli Berisiko Turun

INDEF: Eskalasi Perang Israel-AS dan Iran Tekan Rupiah, Daya Beli Berisiko Turun

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan eskalasi perang Israel-AS melawan Iran selama dua bulan mulai memberi tekanan terhadap ekonomi Indonesia. Risiko utama dinilai berasal dari lonjakan harga energi global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga penurunan daya beli masyarakat.

Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto, menilai gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko global. Jalur tersebut dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga gejolak di kawasan itu berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Eko menjelaskan, tekanan terhadap Indonesia masuk melalui dua jalur. Pertama, secara langsung melalui kenaikan harga minyak yang sudah bergerak di kisaran US$108 per barel. Kedua, secara tidak langsung melalui perlambatan ekonomi negara mitra dagang dan gangguan rantai pasok global. “Tekanan tersebut masuk ke perekonomian domestik melalui dua jalur,” kata Eko.

Menurutnya, tekanan juga mulai terlihat di pasar keuangan, antara lain melalui potensi arus modal keluar (capital outflow), meningkatnya cost of fund, hingga perlambatan pertumbuhan kredit. Dalam kondisi ini, pemerintah dihadapkan pada trade-off antara menjaga stabilitas fiskal, makroekonomi, dan sosial.

Indef menilai kebijakan menahan harga melalui subsidi dapat membantu meredam tekanan jangka pendek, namun berisiko memperlebar defisit fiskal yang telah mencapai sekitar 0,93% terhadap PDB. Sementara itu, penyesuaian harga dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memicu risiko sosial.

Indef mengingatkan tekanan terhadap konsumsi, nilai tukar, dan kredit masih perlu diwaspadai. Karena itu, pengelolaan fiskal yang hati-hati serta konsistensi kebijakan dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Indef, Abdul Manap Pulungan, menambahkan bahwa tekanan geopolitik global saat ini menjalar ke perekonomian Indonesia melalui sektor riil, fiskal, keuangan dan moneter, serta ekspektasi pelaku ekonomi. Ia menilai pelemahan kepercayaan investor dan konsumen dapat memperdalam tekanan, sehingga perbaikan tata kelola dan iklim investasi menjadi semakin mendesak.

Dari sisi indikator, tekanan tercermin dari pelemahan rupiah yang melampaui asumsi APBN dan berada di kisaran Rp17.000–17.500 per dolar AS, atau melemah sekitar 2,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan mata uang kawasan seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, yang menunjukkan adanya faktor domestik.

Risiko pasar keuangan juga meningkat, tercermin dari kenaikan yield SBN dan premi CDS, serta berlanjutnya capital outflow. Kondisi ini dinilai diperburuk oleh pasar keuangan domestik yang relatif dangkal dan tingginya ketergantungan pada investor asing, termasuk penurunan kepemilikan instrumen seperti SRBI.

Di sisi lain, inflasi yang relatif lebih tinggi turut menekan imbal hasil riil, melemahkan investasi, dan mendorong arus modal keluar, seiring turunnya indikator kepercayaan seperti IKK dan IKE.

Dalam situasi ini, Indef menilai stabilisasi rupiah tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan moneter, melainkan memerlukan koordinasi lintas kebijakan. Sejumlah langkah yang dinilai diperlukan antara lain memastikan devisa hasil ekspor masuk ke dalam negeri, memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi, serta menjaga inflasi tetap terkendali.

Selain itu, penguatan pasar keuangan domestik dan perbaikan persepsi investor dinilai penting untuk menarik kembali aliran modal. Dalam jangka menengah, Indef menekankan perlunya perbaikan iklim investasi, optimalisasi peran diaspora sebagai sumber devisa, serta penguatan ketahanan energi untuk mengurangi kerentanan terhadap tekanan eksternal.