Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan meningkatnya risiko terhadap stabilitas keuangan global, seiring memburuknya kerentanan ekonomi dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Peringatan itu disampaikan dalam laporan Fiscal Monitor terbaru yang dirilis di tengah rangkaian Spring Meetings 2026.
Kepala Urusan Fiskal IMF, Rodrigo Valdes, menilai ketegangan geopolitik saat ini tidak hanya berdampak pada keamanan fisik, tetapi juga menekan postur fiskal banyak negara. Salah satu isu yang disorot adalah kecenderungan pemerintah memperluas subsidi energi ketika harga minyak dunia meningkat.
Menurut Valdes, intervensi melalui subsidi bahan bakar berpotensi menimbulkan distorsi pasar karena menekan harga secara artifisial dan mengaburkan “sinyal harga” yang semestinya menjadi panduan pola konsumsi masyarakat.
“Pemerintah sebaiknya tidak mengandalkan subsidi bahan bakar secara luas. Bantuan tunai yang bersifat sementara dan tepat sasaran merupakan opsi yang lebih efektif karena tidak mengganggu mekanisme pasar,” kata Valdes dalam sesi press briefing di Washington DC, Rabu (15/4/2026).
IMF mengingatkan, bila subsidi membuat permintaan global tetap tinggi, tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut. Dalam skenario harga minyak bertahan di atas US$100 per barel hingga 2027, IMF menilai risiko resesi global akan meningkat secara signifikan.
Di akhir keterangannya, Valdes mendorong pemerintah di berbagai negara untuk segera melakukan konsolidasi fiskal. IMF menekankan, meski dunia belum berada dalam krisis penuh, penundaan perbaikan fundamental ekonomi berisiko memperbesar beban pada masa mendatang.