International Monetary Fund (IMF) memperingatkan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi mengguncang ketahanan ekonomi global. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut eskalasi konflik dapat memicu lonjakan harga energi, mendorong inflasi lebih tinggi, serta melemahkan sentimen dan kepercayaan pasar.
Dalam pidato di Konferensi Asia untuk 2050 di Bangkok, Thailand, Kamis (5/3/2026), Georgieva menekankan dunia saat ini menghadapi guncangan yang semakin sering dan sulit diprediksi. Menurut dia, ketidakpastian yang meningkat menuntut kesiapan menghadapi berbagai skenario yang bisa berdampak pada perekonomian.
Peringatan serupa sebelumnya disampaikan Wakil Direktur Pelaksana IMF Daniel Katz. Dalam acara Milken Institute Future of Finance di Washington DC, Selasa (3/3/2026), Katz mengimbau negara-negara untuk bersiap menghadapi kemungkinan dampak konflik terhadap berbagai indikator ekonomi, termasuk inflasi dan pertumbuhan. Namun, ia juga menilai masih terlalu dini untuk memastikan besarnya dampak tersebut dan menekankan bahwa pemulihan dapat terjadi apabila perang berakhir lebih cepat.
Georgieva menyatakan IMF terus memantau perkembangan konflik, yang disebutnya kini meluas dan melibatkan negara lain di kawasan, termasuk Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Lebanon. IMF juga menyiapkan kajian mengenai dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi dunia, yang rencananya akan dipublikasikan dalam laporan World Economic Outlook pada April 2026.
Sementara itu, serangan militer antara AS-Israel dan Iran dilaporkan masih berlanjut. Serangan terbaru disebut terjadi pada Rabu (4/3/2026) malam waktu setempat, ketika Israel kembali menyerang Teheran dan juga Beirut. Di sisi lain, Iran disebut melakukan serangan balasan terhadap AS dan Israel, termasuk serangan ke Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, serta serangan yang mengenai Konsulat Jenderal AS di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

