Konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 dinilai telah mengganggu aktivitas ekonomi dunia dan berpotensi memburuk. Dana Moneter Internasional (IMF) menilai dampak perang bersenjata tidak hanya mengguncang kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga dapat merambat lebih luas melalui sejumlah jalur risiko.
“Kita telah melihat gangguan yang signifikan,” kata Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack dalam konferensi pers, Kamis (26/3/2026).
IMF menyoroti posisi Timur Tengah sebagai salah satu produsen utama minyak dan gas dunia, serta perannya sebagai jalur penting distribusi energi global melalui Selat Hormuz. Menurut IMF, jika Selat Hormuz tertutup akibat perang Iran dengan AS dan Israel, dampaknya dapat langsung memutus akses terhadap sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG yang diangkut melalui laut.
Selain gangguan jalur distribusi, Kozack menyebut infrastruktur energi di kawasan Teluk dan Iran juga mengalami kerusakan, sehingga mengganggu produksi minyak dan gas.
IMF mengidentifikasi setidaknya tiga jalur utama rambatan konflik terhadap perekonomian global. Jalur pertama adalah gejolak harga komoditas, terutama energi. Besarnya dampak, menurut IMF, akan ditentukan oleh lamanya Selat Hormuz ditutup serta sejauh mana kerusakan fasilitas produksi hidrokarbon di kawasan terdampak.
Kozack mengatakan harga minyak dan gas telah meningkat lebih dari 50% dalam sebulan terakhir hingga melampaui US$ 100 per barel. Di saat yang sama, pengiriman pupuk juga terganggu. Kombinasi gangguan pasokan dan transportasi tersebut dinilai meningkatkan risiko kenaikan harga pangan, dengan besaran yang bergantung pada durasi dan intensitas gangguan.
Jalur kedua adalah guncangan terhadap inflasi dan ekspektasi inflasi. Jika konflik berkepanjangan, harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi utama (headline inflation) naik. IMF juga mencermati potensi efek lanjutan (second-round effects) yang bisa menyebar ke inflasi yang lebih luas dan memengaruhi ekspektasi inflasi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada perekonomian global.
Secara historis, IMF melihat pola bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% selama setahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 40 basis poin dan menurunkan output global sekitar 0,1 hingga 0,2%. Namun, Kozack menegaskan angka tersebut merupakan aturan praktis dan terutama berlaku untuk kenaikan harga minyak yang bersifat persisten.
Jalur ketiga adalah kondisi keuangan. IMF mencatat adanya reaksi pasar global terhadap perang, termasuk penurunan harga saham global dan kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara, baik negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa, maupun negara berkembang. Volatilitas juga meningkat, dengan dolar AS menguat sementara mata uang sejumlah negara berkembang melemah.
Meski demikian, Kozack menekankan dampak keseluruhan konflik akan sangat bergantung pada durasi dan intensitasnya. IMF menyatakan akan menyampaikan penilaian terbaru dalam laporan World Economic Outlook pada April, yang akan memuat analisis komprehensif di tingkat negara, regional, dan global.

