WASHINGTON DC — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah telah mengganggu perekonomian negara-negara yang berada di garis depan konflik serta memperburuk prospek ekonomi global yang sebelumnya mulai pulih dari krisis.
Dalam sebuah blog yang ditulis para ekonom IMF pada Senin (30/3), lembaga itu menyatakan konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari menimbulkan guncangan global yang bersifat asimetris, dengan dampak berbeda-beda di tiap kawasan. Namun, secara umum situasi tersebut mendorong pengetatan kondisi keuangan dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.
Salah satu faktor utama yang memperparah keadaan adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini selama ini menjadi rute vital distribusi energi global. Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), sekitar 25 hingga 30 persen pasokan minyak dunia serta 20 persen gas alam cair global melewati selat tersebut. Penutupan jalur itu, ditambah kerusakan infrastruktur energi di kawasan, disebut sebagai gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dan diperkirakan mencatat kenaikan bulanan tertinggi hingga akhir Maret. Kenaikan harga energi itu tidak hanya memukul sektor energi, tetapi juga merambat ke sektor lain melalui peningkatan biaya produksi, transportasi, dan logistik.
IMF menilai besaran dampak konflik akan sangat ditentukan oleh durasi perang, luas wilayah terdampak, serta tingkat kerusakan pada infrastruktur dan rantai pasok global. Karena itu, IMF mendorong negara-negara untuk berhati-hati dalam merumuskan kebijakan dan langkah respons agar dampak krisis dapat dikelola secara efektif.
Lembaga tersebut juga menyatakan kesiapan untuk mendukung negara-negara anggotanya, baik melalui rekomendasi kebijakan maupun bantuan keuangan, serta terus berkoordinasi dengan komunitas internasional guna menjaga stabilitas ekonomi global.
Peringatan IMF sejalan dengan sikap negara-negara anggota G7 yang menyatakan siap mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk menjaga stabilitas pasar energi dan meminimalkan dampak ekonomi yang lebih luas. Selain itu, 32 negara anggota IEA telah sepakat untuk melepas cadangan strategis minyak hingga 400 juta barel pada awal Maret sebagai upaya meredam lonjakan harga.
Meski demikian, IMF menyoroti risiko besar yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah. Kenaikan harga energi, pangan, dan pupuk dinilai berpotensi memicu kerawanan pangan serius, terutama ketika dukungan internasional dari negara maju cenderung menurun.
“Meskipun perang dapat membentuk ekonomi global dengan cara yang berbeda, semua jalan mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” tulis para ekonom IMF.
IMF juga mencatat negara-negara importir energi besar di Asia dan Eropa diperkirakan menanggung beban paling berat akibat lonjakan harga bahan bakar. Sementara itu, sejumlah negara di Afrika dan sebagian Asia menghadapi kesulitan memperoleh pasokan energi, bahkan ketika harga sudah melonjak.
Dalam jangka panjang, konflik yang berkepanjangan berisiko membuat harga energi bertahan tinggi, meningkatkan tekanan inflasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut juga dapat memperkuat ekspektasi inflasi jangka panjang, yang pada akhirnya memicu kenaikan upah dan harga secara berkelanjutan.
IMF menyatakan akan merilis analisis yang lebih komprehensif dalam laporan World Economic Outlook yang dijadwalkan terbit pada 14 April, bertepatan dengan pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington.

