BERITA TERKINI
IMF: Ekonomi Global Masuk Fase “Dalam Bayang-Bayang Perang”

IMF: Ekonomi Global Masuk Fase “Dalam Bayang-Bayang Perang”

Ekonomi global kembali memasuki periode penuh tekanan dan ketidakpastian. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 menggambarkan situasi saat ini sebagai fase ketika perekonomian dunia berada “dalam bayang-bayang perang”, seiring meningkatnya risiko dari konflik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, inflasi yang kembali menguat, ketegangan geopolitik, serta fragmentasi perdagangan internasional.

Laporan itu terbit ketika banyak negara sempat berharap dunia bergerak menuju stabilitas setelah beberapa tahun terguncang pandemi, perang Rusia-Ukraina, krisis energi, dan inflasi tinggi. Sebelum konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026, ekonomi global dinilai masih cukup kuat dan bahkan diperkirakan berpeluang direvisi naik berkat investasi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), pelonggaran tekanan perdagangan, serta kondisi keuangan global yang relatif lebih longgar.

Namun, pecahnya perang mengubah arah proyeksi secara cepat. Konflik di kawasan yang menjadi pusat distribusi energi dunia memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan gas global. Penutupan jalur penting seperti Selat Hormuz serta kerusakan fasilitas energi mendorong kekhawatiran pasar akan terulangnya krisis energi seperti dekade 1970-an.

IMF kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 hanya mencapai 3,1%, turun dari sekitar 3,4% pada 2025. Sebelum perang pecah, IMF sempat memperkirakan ekonomi global dapat tumbuh sekitar 3,4% pada 2026. Dengan demikian, konflik geopolitik dinilai memangkas prospek pertumbuhan dalam waktu singkat.

IMF menekankan proyeksi 3,1% merupakan skenario moderat dengan asumsi perang berlangsung relatif singkat dan gangguan energi mulai mereda pada pertengahan 2026. Jika konflik lebih lama atau meluas, dampaknya diperkirakan jauh lebih berat. Dalam skenario negatif, pertumbuhan global disebut bisa turun menjadi 2,5%. Dalam skenario ekstrem ketika gangguan energi berkepanjangan dan ekspektasi inflasi tidak terkendali, pertumbuhan global diperkirakan mendekati 2% pada 2026 dan 2027, level yang dinilai sangat dekat dengan kondisi resesi global.

Krisis energi menjadi pusat perhatian laporan tersebut. IMF memperkirakan harga energi naik sekitar 19% sepanjang 2026. Harga minyak dunia diproyeksikan meningkat sekitar 21,4% dengan rata-rata US$82 per barel. Dalam skenario yang lebih buruk, harga minyak dapat mendekati US$100 per barel.

IMF menilai kenaikan harga minyak dapat memicu efek domino ke berbagai sektor: biaya transportasi meningkat, harga pupuk naik, biaya produksi industri membengkak, dan harga pangan terdorong. Situasi ini disebut sebagai negative supply shock klasik, yakni ketika kenaikan biaya produksi menekan aktivitas ekonomi sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.

Kerentanan ini dinilai meningkat karena dunia belum sepenuhnya pulih dari tekanan inflasi pascapandemi dan lonjakan energi akibat perang Rusia-Ukraina pada 2022. Banyak rumah tangga masih merasakan beban biaya hidup tinggi, sehingga kenaikan harga energi baru berpotensi lebih cepat memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap inflasi.

IMF memperkirakan inflasi global naik dari 4,1% pada 2025 menjadi 4,4% pada 2026. Dalam skenario negatif, inflasi dapat meningkat menjadi 5,4%. Sementara dalam kondisi paling buruk, inflasi global disebut bisa mendekati 6% pada 2027.

Menurut IMF, persoalan utama bukan hanya kenaikan harga energi, melainkan reaksi masyarakat dan pelaku usaha. Ketika keyakinan bahwa harga akan terus naik menguat, pekerja cenderung menuntut kenaikan upah lebih tinggi dan perusahaan menaikkan harga barang lebih agresif. Kondisi ini dapat memicu spiral inflasi yang semakin sulit dikendalikan.

Situasi tersebut menempatkan bank sentral dunia pada dilema. Di satu sisi, ekonomi global mulai melambat sehingga suku bunga tinggi terlalu lama dapat memperburuk perlambatan. Di sisi lain, inflasi energi membuat ruang penurunan suku bunga menjadi terbatas. IMF menekankan pentingnya kredibilitas kebijakan moneter, termasuk kesiapan mengambil langkah tegas bila ekspektasi inflasi mulai lepas kendali. IMF juga mengingatkan independensi bank sentral menjadi semakin penting di tengah tekanan politik dan ketidakpastian global.

Amerika Serikat menjadi salah satu pusat perhatian dalam laporan tersebut. Ekonomi AS disebut tetap tumbuh berkat investasi besar di sektor teknologi dan AI, tetapi tanda ketidakseimbangan mulai terlihat. Pertumbuhan lapangan kerja melambat, sementara inflasi inti masih berada di level sekitar 3,1%.

Dari sisi fiskal, IMF memperkirakan defisit anggaran pemerintah AS mencapai sekitar 7,5% terhadap PDB pada 2026. Utang publik AS diproyeksikan naik dari sekitar 124% terhadap PDB pada 2025 menjadi 142% pada 2031. IMF menilai lonjakan utang pemerintah menjadi ancaman jangka panjang, karena kenaikan beban bunga dapat menekan investasi produktif dan memperburuk tekanan suku bunga global.

China menghadapi tantangan berbeda. Ekonomi negara itu disebut masih ditopang ekspor yang kuat, terutama dari sektor teknologi dan semikonduktor, namun permintaan domestik tetap lemah, khususnya di sektor properti yang belum pulih sepenuhnya. Surplus perdagangan barang China mencapai sekitar US$1,2 triliun pada 2025 atau sekitar 6% dari PDB, mencerminkan ketergantungan besar terhadap ekspor.

IMF menilai kondisi tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan baru di ekonomi global. Ketika permintaan domestik China lemah, ketergantungan pada pasar luar negeri meningkat dan berpotensi memperbesar ketegangan perdagangan dengan negara lain, terutama Amerika Serikat dan Eropa.

Di Eropa, tantangan muncul dari kombinasi pertumbuhan lemah dan kebutuhan belanja pertahanan yang meningkat. Jerman disebut mulai meningkatkan pengeluaran infrastruktur dan militer secara agresif, dengan proyeksi defisit fiskal melebar hingga 3,8% terhadap PDB. Secara keseluruhan, utang kawasan euro diperkirakan naik dari sekitar 87% terhadap PDB pada 2025 menjadi 90% pada 2031.

IMF juga menyoroti tren peningkatan belanja pertahanan global. Dalam jangka pendek, belanja pertahanan dapat mendorong aktivitas ekonomi dan membuka lapangan kerja. Namun, dalam jangka panjang, peningkatan utang dan menyusutnya ruang fiskal dinilai dapat menjadi masalah, termasuk risiko pengurangan anggaran sektor sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur produktif. IMF memperingatkan, kondisi tersebut berpotensi memicu ketidakpuasan sosial dan memperburuk ketimpangan.

Selain perang dan energi, IMF menilai sistem perdagangan internasional tengah mengalami perubahan besar. Globalisasi disebut tidak berhenti, tetapi bergerak menjadi lebih terfragmentasi dan multipolar. Amerika Serikat, misalnya, terus mengurangi ketergantungan pada produk China, sementara impor dari Vietnam, Taiwan, dan Meksiko meningkat. Di sisi lain, China mulai mengalihkan ekspornya ke negara-negara Asia dan Eropa.

Perubahan rantai pasok ini menunjukkan faktor geopolitik semakin menentukan hubungan ekonomi internasional, tidak lagi semata mempertimbangkan efisiensi biaya, melainkan juga keamanan nasional dan stabilitas politik. IMF menilai fragmentasi dapat menurunkan efisiensi perdagangan global dalam jangka panjang, meningkatkan biaya produksi, dan memperlambat pertumbuhan dunia.

Laporan IMF juga memberi perhatian pada mineral tanah jarang (rare earth) yang penting bagi industri kendaraan listrik, energi hijau, semikonduktor, dan AI. Pasokan mineral ini sangat terkonsentrasi pada beberapa negara, terutama China. IMF memperingatkan gangguan pasokan rare earth dapat menimbulkan tekanan ekonomi besar karena ketergantungan industri teknologi modern terhadap material tersebut.

Negara berkembang dinilai menjadi pihak paling rentan. Negara pengimpor energi menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak, pelemahan mata uang, dan meningkatnya biaya utang. IMF menyoroti negara berpendapatan rendah sebagai kelompok berisiko tinggi karena ruang fiskal terbatas dan beban utang yang masih tinggi sejak pandemi. Ketika harga energi dan biaya pinjaman meningkat, kemampuan menjaga stabilitas ekonomi semakin sempit.

IMF juga mencatat pasar keuangan global semakin rapuh. Dalam situasi ketidakpastian geopolitik, investor cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Arus modal keluar dari negara berkembang dapat meningkat dan melemahkan mata uang, yang kemudian memperburuk inflasi domestik karena harga impor menjadi lebih mahal. Pada saat yang sama, bank sentral di negara berkembang terdorong mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Di tengah tekanan tersebut, IMF tetap melihat peluang pertumbuhan jangka panjang dari perkembangan AI. Investasi besar pada pusat data, semikonduktor, otomatisasi, dan AI generatif diperkirakan dapat meningkatkan produktivitas global dalam beberapa tahun ke depan, menyerupai dampak revolusi internet pada masa sebelumnya.

Namun, IMF mengingatkan transformasi teknologi berpotensi memunculkan tantangan sosial, termasuk pekerjaan yang tergantikan otomatisasi. Pemerintah dinilai perlu menyiapkan pelatihan ulang tenaga kerja dan investasi pendidikan agar manfaat AI lebih merata dan tidak memperlebar ketimpangan.

Secara keseluruhan, IMF menilai ekonomi global belum memasuki resesi, tetapi fondasinya semakin rapuh akibat kombinasi tekanan perang, inflasi energi, fragmentasi perdagangan, utang tinggi, dan ketidakpastian geopolitik. IMF menggambarkan dunia berada di jalur sempit antara perlambatan terkendali dan potensi krisis baru. Jika konflik meluas atau gangguan energi berlangsung lebih lama, risiko memasuki fase yang lebih berbahaya dinilai meningkat.

Dalam situasi ini, IMF menekankan pentingnya kerja sama internasional agar konflik geopolitik tidak merusak fondasi ekonomi global yang dibangun melalui perdagangan, integrasi, dan koordinasi selama puluhan tahun. Menurut IMF, dunia memang bergerak menuju sistem yang lebih multipolar, namun multipolaritas tidak harus berubah menjadi fragmentasi total. Tanpa koordinasi global yang kuat, risiko krisis ekonomi, inflasi berkepanjangan, dan perlambatan pertumbuhan dapat menjadi tantangan utama dalam dekade mendatang.