Presiden Prabowo Subianto mengimbau masyarakat menghemat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menghindari penumpukan stok menjelang Lebaran. Imbauan ini disampaikan di tengah gejolak ekonomi global serta ketegangan energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Ajakan tersebut mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Harif Amali Rivai, menyatakan sependapat dengan upaya efisiensi penggunaan BBM. Menurutnya, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berdampak pada ketersediaan energi global, termasuk pasokan BBM ke Indonesia.
Harif menilai efisiensi konsumsi dapat dilakukan melalui pengurangan mobilitas, salah satunya lewat skema bekerja dari rumah (work from home/WFH). Namun, ia mengingatkan risiko penumpukan BBM oleh masyarakat. Ia menilai tindakan menimbun tidak hanya berpotensi mengganggu kebutuhan orang lain, tetapi juga memicu kepanikan dan tekanan psikologis di masyarakat.
Ia juga menanggapi informasi mengenai stok nasional yang disebut hanya cukup untuk 20–30 hari. Menurut Harif, kondisi tersebut lebih terkait keterbatasan kapasitas penyimpanan dan tingginya konsumsi akibat populasi yang padat, bukan berarti BBM akan habis. Ia menyampaikan pernyataan itu pada Selasa (17/3/2026).
Harif menambahkan, pemerintah dan Pertamina secara rutin mengisi kembali persediaan untuk menjaga stok tetap aman, terutama menjelang Idul Fitri 2026.
Dari sisi pelaku usaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyoroti keterbatasan penerapan WFH sebagai cara menekan konsumsi BBM di seluruh sektor. Ia menyebut, jika wacana tersebut diterapkan, implementasinya tidak dapat dilakukan secara seragam pada semua sektor.
Shinta menjelaskan sejumlah sektor seperti industri manufaktur, perdagangan, logistik, dan layanan operasional lapangan tetap membutuhkan kehadiran pekerja secara langsung. Meski demikian, ia mengakui beberapa sektor, seperti teknologi informasi, lebih fleksibel sehingga dapat menerapkan WFH. Menurutnya, kebijakan WFH sebaiknya diserahkan kepada masing-masing perusahaan sesuai kebutuhan operasional.
Di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil, imbauan penghematan BBM sekaligus menjaga stok nasional dinilai menjadi langkah strategis agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi tanpa menimbulkan kepanikan.

