Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (27/2/2026) di tengah minimnya sentimen global yang dinilai cukup kuat untuk mendorong arah pasar. Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung menunggu perkembangan berikutnya.
Menurut Gunawan, IHSG masih bertahan di zona hijau, namun penguatannya sangat tipis. Pada penutupan perdagangan, IHSG naik 0,22 poin atau sekitar 0,00 persen ke level 8.235,485, nyaris tidak berubah dibanding penutupan sebelumnya di 8.235,362.
Sepanjang sesi, IHSG sempat bergerak dalam rentang 8.093 hingga 8.246. Sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat ikut menopang pergerakan indeks, di antaranya INCO, ANTM, GOTO, BREN, ADRO, dan TINS. Meski demikian, Gunawan menilai kehati-hatian masih mendominasi karena belum ada sentimen baru yang jelas.
Ia menyebut pasar masih menantikan kejelasan dari sejumlah faktor global, mulai dari rilis data ekonomi Amerika Serikat hingga hasil pertemuan Iran dan AS yang sejauh ini belum menghasilkan solusi konkret.
Sementara itu, rupiah ditutup melemah tipis ke level 16.760 per dolar AS. Gunawan menilai pelemahan terjadi di tengah aktivitas pasar yang relatif sepi serta kecenderungan investor menahan transaksi.
Pergerakan mendatar juga terlihat pada harga emas dunia. Logam mulia tersebut diperdagangkan relatif stabil di kisaran 5.180 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,8 juta per gram. Gunawan menyebut harga emas masih bergerak terbatas karena pelaku pasar mengambil posisi menunggu, seiring belum adanya dorongan kuat dari sisi geopolitik maupun ekonomi global.
Ke depan, Gunawan menilai pasar keuangan masih berpotensi berfluktuasi. Ketidakpastian terkait kebijakan tarif baru Amerika Serikat serta perkembangan tensi geopolitik pasca pertemuan Iran-AS disebut masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar dalam waktu dekat.
“Volatilitas tetap terbuka, dan kejutan pasar masih sulit diproyeksikan dalam jangka pendek,” ujarnya.

