BERITA TERKINI
IHSG Bertahan di 7.106 Jelang Libur Lebaran, Tekanan Global dan Domestik Menguat

IHSG Bertahan di 7.106 Jelang Libur Lebaran, Tekanan Global dan Domestik Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis ke level 7.106 pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, menjelang libur panjang Lebaran. Pergerakan pasar terjadi di tengah tekanan global dan domestik yang muncul bersamaan, membuat investor cenderung lebih defensif karena pasar tidak dapat merespons perkembangan global secara langsung selama periode libur.

Dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia yang diterima Kabarbursa.com, pasar saham Indonesia disebut bergerak lebih gelisah dibandingkan mayoritas bursa Asia pada periode tersebut. Tekanan dinilai berasal dari kombinasi faktor geopolitik, lonjakan harga energi, arah kebijakan moneter global, serta meningkatnya risiko domestik.

Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak Brent sempat mendekati USD120 per barel sebelum turun ke sekitar USD103, tetap jauh di atas kisaran pra-konflik sekitar USD70. Gangguan pada Selat Hormuz—jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—turut meningkatkan volatilitas pasar energi.

International Energy Agency (IEA) merespons dengan rencana pelepasan cadangan minyak global sebesar 411,9 juta barel untuk menjaga stabilitas pasokan. Lonjakan harga energi tersebut kemudian mempengaruhi ekspektasi inflasi global. Goldman Sachs memperkirakan tekanan energi dapat menaikkan inflasi global sekitar 0,5 hingga 0,6 poin persentase dan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,3 persen dalam satu tahun ke depan.

Perubahan ekspektasi inflasi itu ikut menggeser pandangan pasar terhadap kebijakan moneter, terutama di Amerika Serikat. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed turun menjadi kurang dari satu kali hingga akhir tahun, dari sebelumnya sekitar dua kali sebelum konflik meningkat. Data ekonomi AS juga menunjukkan tekanan yang masih bertahan, dengan produk domestik bruto kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen, sementara inflasi inti Core PCE tercatat 3,1 persen secara tahunan, masih di atas target 2 persen.

Situasi tersebut mendorong pergerakan dana global keluar dari pasar negara berkembang, seiring langkah deleveraging dan peralihan ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Di pasar obligasi, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,27 persen, sedangkan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun sekitar 6,82 persen. Penyempitan spread ini dinilai mengurangi daya tarik relatif aset keuangan domestik.

Sejalan dengan tekanan global, IHSG mencatat penurunan signifikan dalam sepekan terakhir. Indeks melemah sekitar 3,05 persen pada Jumat sebelumnya dan terkoreksi hampir 6 persen secara mingguan. Arus dana asing juga menunjukkan tren keluar, dengan penjualan bersih sekitar Rp1,57 triliun sepanjang pekan dan outflow year-to-date mencapai Rp22,37 triliun di pasar reguler.

Di pasar valuta asing, rupiah bergerak mendekati level psikologis 17.000 per dolar AS. Pada perdagangan terakhir, rupiah berada di kisaran 16.978 per dolar AS, mencerminkan tekanan eksternal yang masih berlangsung.

Dari sisi domestik, sensitivitas pasar turut dipengaruhi kondisi cadangan bahan bakar minyak nasional yang diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 hari, sehingga meningkatkan perhatian terhadap lonjakan harga energi global. Ketidakpastian fiskal juga menjadi sorotan, menyusul wacana pelebaran defisit anggaran di atas 3 persen yang dinilai dapat mempengaruhi persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia.

Selain itu, pelaku pasar mencermati pembenahan industri pasar modal setelah pembekuan izin aktivitas penjamin emisi pada sejumlah perusahaan sekuritas, yang dinilai dapat mempengaruhi dinamika pipeline penawaran umum perdana saham.

Pada perdagangan terakhir, IHSG menguji area support psikologis 7.000. Meski demikian, data transaksi menunjukkan investor asing mulai mencatat pembelian bersih sekitar Rp1 triliun pada seluruh pasar, setelah tekanan jual dalam beberapa hari sebelumnya.

Kiwoom menilai posisi pasar masih sensitif terhadap perkembangan global dan menyarankan kehati-hatian menjelang libur panjang. Untuk menjaga keamanan portofolio, investor disarankan tidak terlalu agresif dan menyimpan lebih banyak kas.