Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan paket langkah pengendalian permintaan energi untuk membantu meredam dampak ekonomi global akibat gangguan pasokan minyak setelah blokade Selat Hormuz. Usulan tersebut disampaikan dalam laporan yang dirilis Jumat.
Dalam laporannya, IEA merinci 10 opsi berbasis sisi permintaan yang dapat diterapkan oleh rumah tangga, pelaku usaha, dan pemerintah. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari guncangan harga minyak dan mengurangi tekanan terhadap keterjangkauan energi. Sebagian besar langkah yang diusulkan berfokus pada konsumsi bahan bakar transportasi darat, namun juga mencakup penggunaan bahan bakar untuk transportasi udara, memasak, dan sektor industri.
IEA menilai konflik di sekitar Iran telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Hal itu terjadi karena Selat Hormuz—jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% ekspor minyak global—praktis tertutup.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah melampaui 100 dolar AS per barel dan memicu kenaikan lebih tajam pada harga produk turunan, seperti solar, bahan bakar pesawat, dan gas petroleum cair (LPG).
Untuk menghemat konsumsi bensin dalam situasi ini, IEA mengusulkan penerapan kerja dari rumah jika memungkinkan, penurunan batas kecepatan di jalan raya setidaknya 10 kilometer per jam, serta mendorong penggunaan transportasi umum.
IEA juga menilai penggunaan kendaraan pribadi secara bergiliran dan peningkatan praktik berbagi kendaraan dapat menjadi langkah efektif. Selain itu, lembaga tersebut menyarankan optimalisasi transportasi komersial serta pengurangan perjalanan udara untuk keperluan bisnis.
Di sisi lain, IEA mengusulkan pengalihan penggunaan LPG dari sektor transportasi ke sektor yang dinilai lebih krusial, seperti memasak, sementara bensin dinilai lebih tepat digunakan untuk kendaraan.
Untuk menekan penggunaan LPG dalam kegiatan memasak, IEA mendorong pemanfaatan kompor listrik dan metode memasak modern lainnya.
IEA turut menyoroti perlunya optimalisasi penggunaan minyak di industri petrokimia, yang disebut menyumbang sekitar dua pertiga dari permintaan minyak sektor industri. Lembaga itu menambahkan, fasilitas industri dapat menghemat bahan bakar dalam jangka pendek melalui pemeriksaan pemeliharaan serta pengoperasian peralatan secara lebih efisien, termasuk mematikannya saat tidak digunakan.

