BERITA TERKINI
Idul Fitri 2026 di Tengah Ketegangan Global: Membaca Konflik lewat Teori Sosial dan Spirit Panca Waluya Pasundan

Idul Fitri 2026 di Tengah Ketegangan Global: Membaca Konflik lewat Teori Sosial dan Spirit Panca Waluya Pasundan

Idul Fitri 2026 diperkirakan berlangsung di tengah situasi geopolitik yang memanas, menyusul meningkatnya konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Serangan yang terjadi pada akhir Februari hingga awal Maret 2026 disebut menimbulkan korban jiwa besar serta memicu kekhawatiran global.

Di tengah kondisi tersebut, Idul Fitri dapat dibaca bukan hanya sebagai perayaan keagamaan, melainkan juga ruang refleksi moral tentang pentingnya perdamaian dalam kehidupan global. Perspektif teori konflik, sebagaimana dikemukakan Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf, menempatkan konflik sebagai dinamika sosial yang lahir dari pertentangan kepentingan dan distribusi kekuasaan.

Ketegangan antarnegara dalam konteks ini menunjukkan adanya pertarungan kepentingan yang tidak selalu dapat diselesaikan melalui kekuatan politik semata. Situasi tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya nilai moral dan spiritual sebagai dasar membangun harmoni sosial. Idul Fitri, sebagai momentum kembali kepada fitrah kemanusiaan, membawa pesan rekonsiliasi, empati, dan solidaritas sosial.

Nilai-nilai itu juga dinilai sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Pasundan yang menekankan harmoni kehidupan. Setidaknya, ada empat pembelajaran yang dapat dipetik dari Idul Fitri di tengah dinamika konflik global.

Pertama, konflik sebagai dinamika sosial. Teori konflik menjelaskan bahwa pertentangan kepentingan antar kelompok merupakan bagian dari dinamika kehidupan sosial. Lewis A. Coser menegaskan konflik muncul ketika kelompok berusaha mempertahankan kepentingan politik, ekonomi, atau identitas kolektifnya. Dalam konteks konflik di Timur Tengah, persaingan geopolitik, keamanan regional, serta kepentingan strategis disebut menjadi faktor utama yang memicu eskalasi ketegangan. Dampaknya tidak terbatas pada kawasan konflik, melainkan turut memengaruhi stabilitas global.

Kedua, dampak konflik internasional terhadap kehidupan masyarakat. Konflik global tidak hanya menyentuh aspek politik, tetapi juga memengaruhi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat dunia. Dalam teori konflik struktural Ralf Dahrendorf, ketimpangan kekuasaan dapat memunculkan ketegangan dalam sistem sosial yang lebih luas. Dalam konteks Indonesia, situasi global dapat memicu kekhawatiran terkait stabilitas energi, harga bahan pokok, serta kondisi ekonomi masyarakat menjelang Idul Fitri. Karena itu, kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas nasional dipandang penting.

Ketiga, nilai Islam sebagai resolusi konflik. Dalam ajaran Islam, perdamaian disebut sebagai prinsip utama kehidupan sosial. Al-Quran menekankan rekonsiliasi, keadilan, dan dialog sebagai jalan untuk meredakan pertentangan. Momentum Idul Fitri mengajarkan saling memaafkan, memperkuat solidaritas, dan membangun harmoni sosial. Nilai-nilai ini dipandang relevan secara universal untuk mendorong perdamaian dunia dan dapat menjadi inspirasi moral bagi upaya resolusi konflik yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Keempat, spirit Panca Waluya sebagai kearifan Pasundan. Dalam kearifan lokal masyarakat Sunda dikenal konsep Gapura Panca Waluya Jawa Barat, yang menekankan kebahagiaan lahir dan batin melalui harmoni sosial. Nilai ini menjunjung keseimbangan antara manusia, masyarakat, dan lingkungan. Spirit Panca Waluya mengajarkan bahwa kedamaian dan kesejahteraan tidak dicapai melalui konflik berkepanjangan, melainkan melalui kerja sama, empati, dan solidaritas sosial—sebuah nilai yang dinilai relevan untuk membangun budaya perdamaian.

Pada akhirnya, Idul Fitri diposisikan sebagai momentum refleksi moral bagi umat manusia. Di tengah konflik global, pesan perdamaian, empati, dan rekonsiliasi menjadi semakin penting. Teori konflik menunjukkan pertentangan kepentingan merupakan realitas sosial yang sulit dihindari, namun nilai-nilai agama dan kearifan lokal seperti spirit Panca Waluya menekankan bahwa konflik perlu dikelola melalui dialog, keadilan, dan solidaritas kemanusiaan.

Dengan demikian, Idul Fitri dapat menjadi pengingat bahwa perdamaian merupakan fondasi penting bagi kehidupan masyarakat global yang harmonis.