BERITA TERKINI
ICDX: Ketidakpastian Geopolitik Membuat Harga Emas dan Minyak Tetap Fluktuatif pada 2026

ICDX: Ketidakpastian Geopolitik Membuat Harga Emas dan Minyak Tetap Fluktuatif pada 2026

JAKARTA — Gejolak geopolitik global diperkirakan masih memengaruhi pergerakan harga komoditas dunia sepanjang 2026. Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menilai komoditas strategis seperti emas dan minyak mentah berpotensi tetap bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik internasional.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam kegiatan ICDX Commodity Outlook 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Forum itu membahas prospek emas dan minyak mentah melalui tema “Gold & Crude Oil: Availability, Geopolitics and Global Market”.

Direktur ICDX Nursalam mengatakan informasi yang dibagikan dalam forum tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pelaku usaha dalam menyusun strategi bisnis pada 2026. “Kami berharap, informasi yang kami sampaikan dalam Commodity Outlook 2026 ini bisa menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya di tahun 2026 ini,” ujar Nursalam.

Nursalam menambahkan, perkembangan geopolitik global, terutama di Timur Tengah, dinilai akan turut memengaruhi harga minyak mentah dan emas. “Perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap harga komoditas minyak mentah dan emas,” katanya.

Di ICDX, perdagangan multilateral untuk komoditas minyak mentah dan emas dilakukan melalui beragam kontrak berjangka yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha sebagai instrumen lindung nilai. Instrumen tersebut antara lain kontrak dalam produk derivatif komoditas GOFX, yang mencakup kontrak spot dan berjangka emas, kontrak berjangka minyak mentah, serta kontrak spot forex berukuran mini.

Sepanjang 2025, transaksi multilateral kontrak komoditas berbasis minyak mentah di ICDX tercatat mencapai 61.260 lot. Adapun transaksi kontrak komoditas berbasis emas mencapai 1.627.698 lot.

Untuk minyak mentah, transaksi didominasi kontrak COFRMic dengan jumlah 51.548 lot. Kontrak berjangka mikro ini menggunakan acuan harga West Texas Intermediate (WTI) dengan ukuran 10 barrel per lot. Sementara untuk emas, transaksi didominasi GOLDUDMic sebanyak 682.310 lot. Kontrak ini merupakan versi mikro dari kontrak GOLDUD dengan ukuran 1/100 dari kontrak standar atau setara 0,01 kontrak.

Emas dinilai masih berpeluang bertahan tinggi

Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia menyebut 2025 sebagai salah satu periode terbaik bagi emas dalam beberapa dekade terakhir. “Tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat perannya sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi di tengah ketidakpastian global,” kata Tiffani.

Ia memaparkan, sepanjang 2025 harga emas tercatat naik 64 persen dengan 53 kali mencetak rekor tertinggi. Rekor tertinggi terjadi pada 26 Desember 2025 di level 4.550 dollar AS per troy ons, dengan rata-rata harga sekitar 3.431 dollar AS per troy ons.

Menurut Tiffani, penguatan emas dipengaruhi beberapa faktor, termasuk tiga kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Open Market Committee (FOMC) dengan total 75 basis poin, konflik di Timur Tengah, serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China.

Memasuki 2026, ia memperkirakan harga emas berpotensi tetap tinggi. Tiffani menyebut harga emas berpeluang berada di kisaran 5.500—6.000 dollar AS per troy ons hingga akhir tahun. Sementara itu, berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, median proyeksi harga emas 2026 berada di 4.746,50 dollar AS per troy ons, naik dari estimasi sebelumnya 4.275 dollar AS.

Minyak mentah masih sensitif terhadap dinamika geopolitik

Di sisi lain, analis Research and Development ICDX Girta Putra Yoga menilai 2025 menjadi tahun yang menantang bagi minyak mentah. “Tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi komoditas minyak mentah. Laju harga rata-rata emas hitam ini mencatatkan penurunan lebih dari 21 persen ke level 60 dollar AS per barrel pada akhir penutupan 2025,” ujarnya.

Harga tersebut turun dari rata-rata awal tahun yang mencapai 77 dollar AS per barrel. Pada paruh pertama 2025, harga minyak mentah sempat turun hampir 10 persen dengan rata-rata di kisaran 69 dollar AS per barrel. Girta menyebut penurunan dipicu perang tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap China serta beberapa mitra dagang seperti Kanada dan Meksiko.

Harga minyak bahkan sempat menyentuh 62 dollar AS per barrel pada Mei 2025 sebelum kembali menguat setelah Amerika Serikat dan China menyepakati jeda tarif selama 90 hari.

Memasuki 2026, harga minyak kembali melonjak seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. “Ketegangan geopolitik pada awal 2026, mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS hingga perang AS–Iran, mendorong harga minyak mentah naik hingga menyentuh 90 dollar AS per barrel pada awal Maret ini,” kata Girta. Ia menyebut level tersebut meningkat dari sekitar 57 dollar AS per barrel pada awal Januari 2026.

Menurut Girta, harga minyak mentah berpotensi terus menguat hingga paruh kedua 2026. Level resistance diperkirakan berada pada kisaran 95—100 dollar AS per barrel, sementara level support diproyeksikan di kisaran 75—80 dollar AS per barrel.

Ia menambahkan, sejumlah faktor utama yang diperkirakan memengaruhi pergerakan harga minyak antara lain perkembangan konflik di Timur Tengah, kebijakan produksi OPEC+, serta kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat.

Forum juga dirangkai kegiatan bersama media

Kegiatan ICDX Commodity Outlook 2026 turut dirangkaikan dengan acara buka puasa bersama awak media yang rutin digelar setiap bulan Ramadhan. Head of Corporate Communications ICDX Group Podogiri Hatmoko mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun relasi dengan media.

“Kegiatan buka puasa bersama media ini merupakan salah satu bentuk relasi antara kami dengan media massa, khususnya para jurnalis,” kata Podogiri. Ia menambahkan media berperan penting dalam distribusi informasi kepada masyarakat sehingga ditempatkan sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam operasional ICDX.

Senada, Direktur ICDX Nursalam menilai media turut berperan dalam meningkatkan literasi publik mengenai perdagangan berjangka komoditas. “Kami melihat media massa menjadi pilar penting dalam distribusi informasi kepada masyarakat, terutama melalui mekanisme pemberitaan yang terverifikasi dan menghadirkan narasumber yang kredibel,” ujar Nursalam.