Hujan berintensitas tinggi yang turun selama berhari-hari sejak pertengahan November 2025 memicu banjir di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Curah hujan yang terus berlangsung menyebabkan luapan sungai dan genangan meluas hingga merendam sembilan kabupaten/kota, termasuk Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Singkil, Bireuen, dan Lhokseumawe.
Di Aceh Timur, banjir mengganggu aktivitas warga di lima kecamatan. Sebanyak 3.698 rumah dilaporkan terendam dengan ketinggian air berkisar 10–50 sentimeter. Sejumlah warga memilih mengungsi ke rumah kerabat maupun tempat pengungsian karena debit air terus meningkat.
Sementara itu di Aceh Utara, banjir berdampak pada tujuh kecamatan. Sekitar 3.057 jiwa dari 2.070 kepala keluarga terdampak langsung. Ketinggian air di beberapa titik mencapai 30–50 sentimeter, membuat aktivitas harian warga terganggu.
Dampak banjir juga terlihat dari meningkatnya jumlah pengungsi. Laporan terbaru mencatat 1.497 jiwa telah mengungsi pada Rabu, 26 November 2025, akibat banjir di sejumlah wilayah Aceh. Di tengah kondisi cuaca ekstrem, bencana ini juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa. Sejumlah pemberitaan menyebut setidaknya dua orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor pada akhir pekan sebelumnya.
Genangan air turut melumpuhkan berbagai aktivitas dan layanan publik. Sejumlah permukiman serta fasilitas umum terendam, sementara infrastruktur jalan, lahan pertanian, fasilitas pendidikan, dan akses transportasi ikut terdampak. Kondisi tersebut memaksa warga menunda pekerjaan, membatasi mobilitas, dan mencari perlindungan sementara.
Dunia pendidikan tidak luput dari dampak bencana. Universitas Malikussaleh (Unimal) meliburkan seluruh aktivitas perkuliahan pada 26–27 November 2025 sebagai langkah antisipasi darurat dan untuk menjaga keselamatan mahasiswa serta staf. Kebijakan ini mencerminkan situasi banjir yang mengganggu perjalanan, akses kampus, dan fasilitas belajar.
Secara sederhana, banjir terjadi bukan hanya karena hujan deras, tetapi juga karena luapan sungai di kawasan dataran rendah dan dataran banjir. Kondisi tanah yang jenuh air serta sistem drainase yang dinilai tidak memadai membuat air tidak terserap optimal. Faktor perubahan iklim disebut berperan dalam mengubah pola hujan menjadi lebih intens dalam waktu singkat, sehingga kapasitas alam dan infrastruktur sulit menampung volume air. Berkurangnya kawasan resapan juga dapat mempercepat aliran air ke permukiman.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan komunitas, termasuk perbaikan drainase, pengelolaan tata guna lahan, serta penguatan area resapan. Di sisi lain, dukungan sosial bagi warga terdampak—melalui solidaritas, gotong royong, dan koordinasi dengan pemerintah serta lembaga penanggulangan bencana—menjadi kunci untuk menekan dampak lanjutan.
Bagi mahasiswa, situasi darurat seperti peliburan kampus dapat menjadi momentum untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, seperti relawan dan distribusi bantuan, maupun edukasi lingkungan. Secara lebih luas, banjir Aceh pada November 2025 menunjukkan bahwa bencana dapat menghentikan banyak aspek kehidupan sekaligus, sehingga evaluasi bersama atas ketahanan lingkungan dan sistem mitigasi perlu terus diperkuat.

