BERITA TERKINI
Harga Plastik Naik 30–40 Persen, Pemerintah Cari Pasokan Bahan Baku Alternatif

Harga Plastik Naik 30–40 Persen, Pemerintah Cari Pasokan Bahan Baku Alternatif

Pemerintah Indonesia mencari sumber alternatif bahan baku plastik untuk meredam dampak krisis pasokan global yang dipicu konflik di Timur Tengah dan gangguan rantai pasok. Upaya ini dilakukan di tengah kenaikan harga plastik di pasar domestik.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan Indonesia masih bergantung pada impor naphta dari Timur Tengah sebagai bahan baku utama plastik. Konflik di kawasan tersebut disebut mengganggu pasokan dan memperlambat distribusi global.

Untuk menjaga stabilitas industri plastik nasional, pemerintah mengalihkan pasokan bahan baku dari sejumlah negara, antara lain India, Amerika Serikat, dan Afrika. Pemerintah juga telah melakukan komunikasi langsung dengan produsen di negara-negara tersebut serta mengoordinasikan perwakilan perdagangan di luar negeri guna mempercepat pencarian dan pengamanan pasokan alternatif.

Budi Santoso menambahkan, krisis bahan baku plastik terjadi secara global. Negara-negara produsen seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura juga dilaporkan mengalami gangguan produksi plastik.

Saat ini, industri plastik dalam negeri masih mengandalkan stok yang tersedia sambil menunggu realisasi impor dari negara alternatif. Pemerintah berupaya mempercepat distribusi pasokan baru untuk menekan dampak kenaikan harga plastik di pasar domestik, meski stabilitas harga tetap bergantung pada kondisi global dan kelancaran rantai pasok.

Per April 2026, harga plastik di Indonesia tercatat naik sekitar 30–40 persen. Kenaikan ini dipengaruhi lonjakan harga naphta dan gangguan distribusi minyak mentah di Selat Hormuz. Dampaknya dirasakan langsung oleh industri manufaktur serta berpotensi mendorong kenaikan harga produk turunan plastik di dalam negeri.