BERITA TERKINI
Harga Plastik Global Melonjak, Terdorong Krisis Energi dan Gangguan Pasokan

Harga Plastik Global Melonjak, Terdorong Krisis Energi dan Gangguan Pasokan

Harga plastik di pasar global mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu kombinasi gangguan pasokan bahan baku, meningkatnya harga energi, serta dampak konflik geopolitik di Timur Tengah. Dampaknya tidak terbatas pada satu kawasan, melainkan meluas ke berbagai negara dan berimbas pada industri manufaktur hingga barang konsumsi.

Plastik merupakan produk turunan bahan bakar fosil, terutama minyak dan gas. Lebih dari 99 persen produksi plastik dunia bergantung pada bahan baku petrokimia, sehingga perubahan harga energi berpengaruh langsung terhadap biaya produksi. MIT Technology Review juga mencatat produksi plastik saat ini menyumbang sekitar 5 persen emisi karbon dioksida global, yang menunjukkan eratnya keterkaitan industri plastik dengan sektor energi berbasis fosil.

Lonjakan harga plastik turut dikaitkan dengan gangguan distribusi energi global di Selat Hormuz akibat konflik Iran. Reuters, Jumat (10/4/2026), melaporkan gangguan pasokan minyak dan petrokimia melalui jalur tersebut memperketat pasokan bahan kimia global dan mendorong harga plastik serta polimer ke level tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir.

Setiap tahun, sekitar 20 miliar dollar AS hingga 25 miliar dollar AS produk petrokimia melintasi Selat Hormuz, atau setara sekitar Rp 341,96 triliun hingga Rp 427,45 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.098 per dollar AS. Kondisi ini membuat banyak importir kesulitan mencari pasokan pengganti. “Siapa pun yang mengimpor dari Timur Tengah, yang pada dasarnya mencakup hampir semua orang di seluruh dunia, telah kehilangan pemasok besar dan harus berupaya keras mencari resin pengganti dengan harga yang jauh lebih tinggi,” ujar Joel Morales dari Chemical Market Analytics by OPIS.

Timur Tengah juga memiliki peran besar dalam perdagangan bahan baku plastik. Kawasan ini menyumbang lebih dari 40 persen ekspor polyethylene global pada 2025 dan memasok hampir seluruh kawasan di luar Amerika Utara.

Di sisi lain, harga minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan sangat fluktuatif dan sempat menembus lebih dari 100 dollar AS per barrel, atau sekitar Rp 1,71 juta per barrel. Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada bahan baku petrokimia, termasuk nafta yang digunakan untuk memproduksi plastik.

Penutupan Selat Hormuz diperkirakan mengganggu sekitar 1,2 juta barrel per hari ekspor nafta global. Gangguan ini memperketat pasokan bahan baku industri petrokimia dan ikut mendorong kenaikan harga plastik di pasar internasional.