JAKARTA — Ketegangan geopolitik yang berkembang, terutama terkait dinamika Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, dinilai memberi tekanan besar pada pasar energi global. Salah satu dampaknya terlihat dari lonjakan harga minyak mentah yang pada Senin (9/3) dilaporkan mendekati USD 120 per barel, memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Kenaikan harga minyak tersebut turut menjadi perhatian bagi Indonesia karena berpotensi memengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar USD 70 per barel. Dengan asumsi ini, peningkatan harga minyak yang jauh lebih tinggi dapat menekan ruang fiskal.
Meski demikian, riset Next Indonesia Center dalam laporan berjudul Harga Minyak dan Batas Ketahanan APBN menyebut APBN Indonesia masih dinilai mampu bertahan walaupun terjadi lonjakan harga minyak yang signifikan.
Situasi terkini menambah daftar risiko global yang dapat memengaruhi kondisi fiskal, termasuk pengalaman sebelumnya dari konflik Rusia-Ukraina dan krisis energi di Timur Tengah. Perkembangan harga energi ke depan akan menjadi salah satu faktor yang menentukan besarnya tekanan terhadap APBN, terutama ketika realisasi harga minyak bergerak jauh di atas asumsi yang ditetapkan.

