BERITA TERKINI
Harga Minyak Cetak Kenaikan Bulanan Tertinggi, Bursa Asia Tertekan di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Cetak Kenaikan Bulanan Tertinggi, Bursa Asia Tertekan di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Gejolak perang di Timur Tengah mulai merambat ke pasar keuangan global. Harga minyak melonjak tajam hingga mencatat kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah, sementara bursa saham Asia tertekan dan menuju penurunan bulanan terburuk dalam enam tahun terakhir.

Pergerakan pasar dalam sebulan terakhir berlangsung tidak menentu. Setiap perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran langsung memicu respons investor, yang berulang kali menyesuaikan posisi. Namun, sikap pasar dinilai berubah dari sekadar reaktif terhadap berita menjadi lebih defensif.

“Pasar tampaknya beralih dari sekadar mengikuti berita menjadi masuk ke mode ketakutan dan mulai mengurangi risiko,” kata Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro Asia ex-Jepang di Mizuho, dikutip dari Reuters, Selasa, 31 Maret 2026. Ia menilai perubahan ini dipengaruhi kekhawatiran bahwa konflik tidak akan segera mereda. “Sekarang mulai muncul kekhawatiran bahwa konflik bisa berlangsung lebih lama,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, harga minyak melesat. Minyak Brent diperdagangkan di level USD113,05 per barel (Rp1,91 juta) dan berada di jalur kenaikan bulanan sekitar 56 persen, yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat berada di kisaran USD102,98 per barel (Rp1,74 juta), dengan kenaikan bulanan sekitar 54 persen—yang terbesar dalam hampir enam tahun.

Lonjakan harga energi ini memunculkan kekhawatiran baru di pasar, terutama terkait tekanan biaya yang berpotensi menjalar ke berbagai sektor dan menekan daya beli. “Saya pikir inflasi akan menjadi kekhawatiran terbesar dalam jangka pendek bagi pasar global,” kata Thomas Mathews, Kepala Pasar Asia-Pasifik di Capital Economics.

Mathews menambahkan, risiko yang lebih besar dapat muncul apabila harga energi bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan. “Jika harga minyak tidak turun dalam beberapa bulan ke depan, kita harus mulai memikirkan dampaknya terhadap pertumbuhan,” ujarnya.

Tekanan paling terasa di Asia yang selama ini bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,43 persen dan mencatat penurunan bulanan lebih dari 13 persen, terburuk sejak Maret 2020. Indeks Nikkei Jepang turun sekitar 1,27 persen dan berpotensi melemah hampir 13 persen sepanjang bulan. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menuju penurunan lebih dari 18 persen, terdalam sejak krisis 2008.

Guncangan juga menjalar ke pasar obligasi seiring ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih agresif. Investor memperkirakan bank sentral global akan menahan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren pelemahan sejak awal tahun. IHSG tercatat turun sekitar 18,42 persen secara year-to-date ke level 7.053,78. Pergerakan ini mencerminkan perubahan sentimen investor yang cenderung menghindari aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Setelah sempat berada di atas level 9.100 pada awal periode, IHSG bergerak turun bertahap dengan tekanan yang kian dalam dalam beberapa pekan terakhir.

Ketua The Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral masih menunggu perkembangan dampak perang terhadap inflasi dan ekonomi.

Di sisi lain, dolar AS menguat dan menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global. Mata uang ini mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam delapan bulan terakhir, naik sekitar 2,9 persen terhadap sekeranjang mata uang utama.

Sebaliknya, mata uang Asia mengalami tekanan. Rupee India, rupiah Indonesia, dan peso Filipina melemah hingga mendekati level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Manajer portofolio senior AllianzGI, Ang Ze Yi, mengatakan pihaknya memilih menarik posisi dari mata uang Asia untuk sementara waktu. “Kami menutup posisi di mata uang Asia dan memilih menunggu sampai volatilitas dan ketidakpastian mereda,” ujarnya.